:::: MENU ::::
  • Filosofi Tea

  • Diri Baru di Tahun yang baru (Sebuah refleksi akhir tahun)

  • Harga Diri, depresi hingga akhiri hidup dengan bunuh diri

Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 November 2017

Gladen Jemparingan di Tebing Breksi 


Ada yg berbeda kali ini. Bila biasanya saya dan @wardhaayu blajar panahan modern dg berdiri dan jarak tembak 5-7meter, kali ini kita sedang serius blajar jemparingan. 🎯

Apa sih bedanya panahan modern dan jemparingan? Di panahan modern kita akan blajar memanah dg posisi berdiri sedangkan jemparingan, kita dituntut memanah dg duduk bersila atau bersimpuh. 🛐

Sulit mana? Bagi saya yg awam, jelas sulit jemparingan. Bukan hanya ttg posisi memanahnya saja, tp jarak tembaknya juga. Pada jemparingan ini target utama adalah bandul sepanjang 30-40 cm dg jarak 30 m dari pemanah. 🏹


Wow kan!! Jemparingan ini awalnya hanya dimainkan oleh anggota keluarga kerajaan dan orang-orang lain yang dianggap punya posisi sosial tinggi. Dalam perkembangannya, seni memanah ini menjadi olaharaga bagi semua orang. 🎯


Menariknya jemparingan ini adalah semua peserta wajib mengenakan pakaian tradisional Jawa, lengkap dengan jarik, blangkon, kebaya untuk peserta perempuan dan beskap untuk peserta laki-laki, bahkan ada yang melengkapinya dengan keris. Melihat jemparingan ini serasa kembali ke zaman dahulu atau merasa sedang berada di film kolosal, karena memang nuansanya seperti itu.

Terkecuali pemanah awal seperti saya, dalam latihan masih diperkenankan memakai baju biasa. Pemanah awal biasa disebut cantrik. Beda tipis ya ama cantik 😂. Hal lain yg mengenakkan adalah pemahan senior yg super ramah dan tlaten mengajari. Juga disediakan suguhan makanan tradisional seperti kacang rebus, pisang, tahu bakso, ketala goreng, arem arem, rambutan dan air mineral.


Kenapa saya senang memanah ataupun jemparingan? Karena memanah dan jemparingan itu olah raga, olah rasa dan olah pikir. Otot tangan kamu kudu bakoh koyo benteng pendem, atimu kudu tenang lan ayem koyo banyu njroning kendhi, pikiranmu kudu fokus mengarep menyang tujuan. 🏹

Yukk blajar panahan dan jemparingan bareng. Ini bukan sekedar olahraga tapi juga tradisi yg perlu dijaga agar tetap lestari.

Yg spesial lagi, moment ini didokumentasikan oleh photographer muda nan handal @fikrofiq. Kami bahkan tak sempat mengambil gambar karena sibuk blajar tehnik yg rumit 😅. Thanks for nice picture🙏. Foto nya sangat diluar ekspektasi kebagusannya hehe


Post on Instagram.

Sabtu, 23 September 2017

Peserta Cerita dari Jogja Batch 1
Ada pepatah yang mengatakan, bahwa ketika kamu menjadi yang paling pintar dalam sebuah kelas, maka kamu berada di kelas yang salah. Pepatah tersebut secara tidak langsung memerintahkan kita yang sedang mencari ilmu, untuk menemukan kelas dimana kita termasuk pada golongan orang-orang kelas bawah.

Agar kita merasa bodoh dan menjiwai bahwa kita sedang memintarkan diri.

Sabtu, 23 September 2017 kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti workshop Cerita dari Jogja Batch #1. Workshop CERITA ini digagas oleh Duta Cerita Yogyakarta dari The Habibie Center. Iya, pada kesempatan itu saya merasa berada di kelas yang benar.

Saya adalah satu di antara 18 peserta yang beruntung dari 120an pendaftar. Senang dan bangga tentunya. Bagaimana tidak, seleksi cukup ketat mulai dari submit CV kemudian wawancara via skype. Padahal tahu skype saja baru dan belum pernah makai sama sekali. 😅

Lalu apa yang dipelajari dalam workshop ini? Singkatnya, belajar bercerita, menyampaikan apa yang ada dalam kepala. Seharian penuh.

Versi lengkapnya, mulai dari datang kita diminta untuk membacakan kemudian menandatangani Piagam Cerita. Piagam ini isinya perjanjian selama mengikuti kegiatan, ya seperti tata tertib berkegiatan begitu deh. Lanjut kita outbond di lapangan. Outbond ini terdiri dari beberapa permainan, pertama main "bola kulempar dikau ku kenal". Sudah bisa ditebak tujuan dari outbound ini adalah untuk lebih mengenal satu sama lain. Masing masing peserta diminta menyebutkan nama panggilan dan satu kata yang menjadi ciri khasnya. Yang paling keinget dari permainan ini adalah Kak Windu, Rumput Laut.

Kedua, ada permainan kartografi. Kita diminta untuk mencoba menerka ada di bagian peta sebelah mana ketika trainer mengatakan sebuah nama. Disini kita mulai diajarkan tentang keberagaman dan menyikapai keberagaman itu.

Oh ya sebenarnya kata cerita dalam workshop ini bukan semata mata bermakna berbagi kisah kepada orang lain. CERITA adalah kepanjangan dari Community Empowerment in Raising Inclusivity and Trust through Technology . Sebenarnya workshop ini adalah sebuah workshop yang menyinergikan kemampuan storytelling dan transformasi konflik untuk membangun inklusivitas. Inklusivitas adalah sudut pandang positif terhadap berbagai keberagaman dan perbedaan. Belajar menggunakan sudut pandang orang lain dalam melihat dan menganalisis permasalahan.

Balik lagi ke acara Outbound tadi, selesai acara di lapangan kita kembali masuk ruangan dan mulai materi. Materinya seputar keberagaman dan storytelling. Asiknya materi ini diselingi dengan praktek langsung. Kita diminta bermain peran, sesuai dengan kertas yang dibagikan. Mencoba menjadi orang lain dan memandang dari sudut pandang orang lain.

Selesai materi storytelling, kita diminta untuk bercerita dalam kelompok kecil (9 orang) dalam waktu 4 menit. Ini moment paling horor selama acara. Dikasih satu benda, diberi 1 menit berpikir cerita dan langsung bercerita kepada kelompok dalam waktu 3 menit.

Saat itu kelompok kami dapat benda "kunci" dan karena tak banyak waktu untuk merangkai cerita akhirnya saya menceritakan cerita teman saya, Tika yang pernah mengabdi sebagai guru SM3T di Papua. Terimaaksih ya Tika, ceritamu waktu menginap dikosku menyelamatkan dari bom waktu ini. Hehe. Cerita ini juga jadi cerita favorit yang menginspirasi dari teman teman kelompok.

Puncaknya, peserta akan dipasangkan secara acak dengan peserta lain untuk berkolaborasi bercerita. Masing masing cerita 5 menit dan akan ada cerita berdua dengan durasi 3 menit. Partner saya dalam tugas ini adalah Eno, Mahasiswa S2 MM Manajemen UGM. Dia seorang blesteren dengan aksen inggrisnya yang cukup kental. Nah Eno dan aku sama sama gugupnya karena tidak terbiasa bercerita di depan umum. Kita selalu berdoa, "please jangan kami selanjutnya ya Allah". Terdengar doa kekanak-kanakan namun ternayat di kabulkan Allah. Kami tampil sebagai penutup.

Lalu apa yang saya ceritakan??? Yang ini saya tidak berani mengarang indah seperti sebelumnya. Menggunakan cerita orang lain ditambah improvisasi buknalah pilihan yang tepat ketika harus bercerita di atas panggung dengan penonton yang banyak dan dinilai langsung. Saya ambil aman, cerita pengalaman pribadi sebagai relawan gunung kelud.

Cerita ini sukses membuat penonton terdiam dan menghancurkan image anggun mereka pada diri saya. Mereka tidak percaya kalau saya bisa jadi se gentle itu, berada di antara abu vulkanik mendekati puncak, bermukim dengan penduduk dan kesibukan kerja relawan yang sering bergonta ganti tugas. Komentator, Kak Cyn.. malah lebih terheran lagi dan penasaran dengan cerita si mbah putri yang ditinggal keluarga nya dalam bencana.

Hembh... Bersama dengan 18 orang baru, membuat saya sama sekali merasa bahwa saya belum bersyukur seutuhnya atas apa yang Allah anugerahkan. Mereka memberi contoh langsung pada saya bagaimana mereka jauh lebih bisa mengelola sumber daya yang ada dalam dirinya.

Punya kelebihan kemampuan berbicara, Kak Pristi membuka sekolah public speaking. Punya kemampuan dalam mendidik anak, Kak Marti membuka bimbingan belajar. Dan banyak lagi.

Sedangkan saya saat ini? Butiran debu yang menetap dengan rutinitas kantor sebagai CS.

Dari kelas tersebut saya juga mendapatkan sesuatu. Yakni peningkatan keyakinan bahwa di dunia digital seperti sekarang ini, bukan hanya dibutuhkan sarjana teknologi informasi. Para kaum muda dengan kelebihan kemampuan untuk merangkai fakta dan data menjadi cerita sama pentingnya juga amat dibutuhkan.

Kenapa?
Karena sekarang jamannya perang cerita, perang kata-kata, bukan angkat senjata.

Semakin banyak hoax dan berita serampangan harus diperangi dengan memperbanyak kata-kata baik, cerita-cerita baik, dan segala-gala yang datang dan ditulis dari hati yang baik. Memanfaatkan teknologi. Tidak cukup hanya dengan mencibir hoax dalam obrolan di meja makan.

Terima kasih, The Habibie Center yang sudah memberikan saya kesempatan.
Dan terima kasih juga Anda yang mau membaca tulisan saya hingga kalimat ini.
Setelah ini, kembalilah ke layar kaca Anda, dan mulai sebarkanlah kata-kata baik lewat media sosial.

Sabtu, 22 April 2017


Jumat, 21 April 2017








Seringkali kita meragu bahkan tak jarang merendahkan diri sendiri ketika melihat diri ini tak bisa, tertinggal dari teman yang lain. Orang orang terdekat, orang tua misalkan, teman teman sepergaulan dan guru guru semakin menciutkan kepercayaan diri saat mereka memberi label kita anak yang tidak mampu.

Tutup mata sejenak, Nak. Kemudian renungkan. Ingatlah masing masing pribadi adalah unik. Setiap pribadi adalah orang hebat, orang spesial dengan segala kurang dan lebihnya masing masing. Jadilah kuat dan percaya diri, Nak. Berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain. Karena setiap orang memiliki prosesnya masing masing.



Luangkan lebih banyak waktu untuk mengenali diri kita sendiri. Dalam hal belajar misalkan, akan lebih mudah menyerap ilmu saat kita tahu kita tipe pelajar yangmana. Apa yang selama ini menjadi kekurangan kita sejatinya adalah kelebihan kita saat kita tahu bagaimana mengarahkan.

Menjalani perubahan tentulah tidak mudah. Butuh dukungan dan arahan dari orang tua, teman teman sepergaulan dan bapak ibu guru tentunya. Maafkan atas kesalahapaham dengan diri kita sendiri dan orang orang terdekat kita. Peluk hangat perdamaian dan dukungan untuk memulai perubahan ini.







Setiap pencapaian butuh kerja keras. Akan selalu ada yang harus dibayar untuk setiap impian yang kita inginkan. Ingat duhai kawan, jangan pernah mengharapkan hasil yang berbeda jika kita terus melakukan hal yang sama.





Ketekunan yang disertai dengan perbaikan itulah yang kita perlukan. Karena hidup bukan hanya soal hasil, tapi mengenai proses yang kita alami.

Menggapai cita cita akan membawa kita ke tempat yang tinggi, kebahagiaan tiada terkira. Tapi hanya karakter dari proses pencapaianlah yang membuat kita tetap rendah diri dan bertahan diatas sana.

Namun jika nanti impian itu terpaksa tergeser karena usaha yang tak cukup keras... Apapun yang terjadi bukan alasan untuk kita menjadi tidak bahagia. Karena kita adalah pemilik dari apa yang kita rasakan.

Dalam perjalanan hidup nanti.. Kesalahan, kekecewaan dan hal hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan bisa saja terjadi. Ini menandakan bahwa hidup memanglah tidak sempurna.

Kita tidak butuh kesempurnaan untuk menjadi bahagia dengan apa yang kita jalani dan miliki hari ini. Bahagia adalah tentang bagaimana kita memutuskan untuk memandang sesuatu.


*doc pribadi saat psikotivasi SDN Sewukan, Magelang dalam rangka persiapan UN 






Minggu, 27 November 2016

Yoga Ketawa bareng Anak Jalanan dan Mantang Pengguna Napza 




Tidak semua orang tergugah nuraninya. Kebanyakan terlalu sibuk menilai masa lalu hingga menjauhibahkan mengabaikan orang lain hanya karena cerita kelam masa lalu.

Apa kita lupa bahwa kita pernah salah juga? Rasa rasanya kita terlalu naïf jika memafkan diri sendiri bahkan cenderung menutupi aib kita tapi kita mengecam orang lain dan mengumbar aib mereka. Tidakkah kita ingat bahwa setiap tindakan punya alasan? Barangkali ia terpaksa.

Coba saja kita lihat, imajinasi apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata “anak jalanan” dan “orang dengan gangguan penyalahgunaan zat”? Saya berani jamin, yang terlintas pertama adalah hal buruk tentang mereka. Tak ada yang salah dengan imajinasi, hanya saja ia harus dipangkas lebih rapi agar logika dan nurani kita seimbang.

Mereka bukanlah sampah jalanan yang merusak pemandangan, bukan pula najis yang karena kegiatan negatif mereka, kita memandangnya sebelah mata.

Ketahuilah, mereka adalah pejuang. Pejuang kehidupan yang mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menyambung nyawa di hari itu, berontak berjuang melawan diri sendiri untuk tidak lagi menggunakan zat terlarang, hebatnya… mereka tiap hari berjuang agar bisa diterima kembali oleh kita.

Coba kita buka mata kita yang satunya, melihat lebih dalam pada kerasnya kehidupan mereka. Ada jiwa yang meranggas karena penolakan kelompok sosial, ada mental yang cidera karena diremehkan bahkan dihujat orang, ada syaraf yang mulai teracuni zat hingga butuh waktu dan penangganan berkelanjutan untuk penyembuhan.

Karena inilah komunitas boko jogja berkolaborasi dengan @yogaketawa_indonesia Dan indonesia ketawa mengadakan sesi yoga ketawa untuk para anak jalanan dengan tema OGPZ berhak untuk sehat, gembira dan bahagia.

Terimakasih untuk segenap panitia @fanilatifah_madeh @luciaardhanaswari , @intankeket , @arifplenex , @stepanustrihartanto yang merancang acara ini mulai dari 0.

Terimakasih juga MC luar biasa dari @topikbhebhe dan @enochr.archer 

Post on Instagram

Selasa, 12 Juli 2016


Salah satu peninggalan sejarah di Jawa tengah adalah di kota Karanganyar, YaituCandi Cetho. Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Candi cetho sendiri berada di lereng gunung lawu dengan posisi 1497 mdpl. Candi ini berada di titik koordinat GPS: 7° 35′ 30.22″ S, +111° 9′ 19.87″ E .


Salah satu peninggalan sejarah di Jawa tengah adalah di kota Karanganyar, YaituCandi Cetho. Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Komplek candi sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar atau penduduk setempat sebagai tempat ziarah maupun tempat pemujaan. Candi Ceto dibuat pertama kali oleh Van de Vlies pada tahun 1842. Berdasarkan keadaannya saat reruntuhannya diteliti, candi ini diperkirakan sudah berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh, yang cuup berdekatan lokasinya.
.
Sekarang kompleks candi ceto, terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, terlihat dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat dusunceto. Pada dinding kanan gapura
terdapat inskripsi dengan aksara Jawa Kuno berbunyi Pelling Padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku. Tafsiran dari tulisan tersebut adlaah fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan peyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu pada tahun 1397 Saka atau dalam Masehi 1475 Masehi. Diteras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol pencpiptaan manusia.  Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Pada aras ke delapan terdapat arca phallus ( disebut “kuntobimo”) disisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud Mahadewa. Pemujaan terhadap arca ini melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi. Dan yang terakhir adalah aras ke sembilan merupsembilan merupakan aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Disini terdapat bangunan Batu berbentuk kubus.
.
.
#kaekak #candiceto #lkl #likesforlikes #budaya #likeforlike #igphotographer #liburan #like4like #candicetho #Karanganyar  #vscogram #Karanganyar #jenawi  #wisatabudaya #traveler #vscocam #travelling #budha  #liburlebaran #hindu #petualang #nicepicture

Nama Cetho sendiri merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat sekitar, yang juga adalah nama dusun tempat situs candi ini berada. Cetho dalam Bahasa Jawa mempunyai arti 'jelas'. Disebut Cetho, karena di dusun ini orang dapat melihat dengan sangat jelas pemandangan pegunungan yang mengitarinya yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan di kejauhan tampak puncak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.


Candi Cetho ditemukan seorang arkeolog  Belanda yang bernama Van de Vlies sekitar tahun 1842. Pertama kali ditemukan keadaan candi cetho sangat memprihatinkan, hanya terdapat 14 teras dengan kondisi batuan sudah ditutupi oleh lumut.  Pemugaran selanjutnya dilakukan oleh Humardani seorang asisten pribadi Presiden Soeharto pada tahun 1970 .

Berdasarkan penelitian ilmuwan dan arkolog, Candi Cetho diperkirakan dibangun pada 1451-1470 atau saat  Raja Brawijaya V di Majapahit berkuasa Candi cetho di perkirana dibangun untuk ritual tolak bala dan ruawatn karena pada masa tersebut kerajaan majapahit banyak terjadi kerusuhan dan permasalahan kerajaan.
.
.
#kaekak #candiceto #lkl #likesforlikes #budaya #likeforlike #igphotographer #liburan #like4like #candicetho #Karanganyar  #vscogram #Karanganyar #jenawi  #wisatabudaya #traveler #vscocam #travelling #budha  #liburlebaran #hindu #petualang #nicepicture
doc. pribadi saat wisata keluarga

Selain itu dari dusun ini kita juga disuguhkan dengan pemandangan luas Kota Solo dan Kota Karanganyar yang terbentang luas di bawah. Kompleks candi ini masih digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa atau Kejawen.

Rute menuju ke candi cetho sendiri sangat mudah. Perjalanan bisa di mulai dari pusat kota solo menuju ke kota kabupaten karanganyar. Lalu ikuti saja petunjuk arah untuk menuju ke air terjun grojogan sewu. Tepat sebelum grojogan sewu terdapat papan arah menuju ke candi cetho. Nah tinggal ikuti saja jalan nya sampai menuju ke candi Cetho.

Sebelum sampai di candi cetho, para pengunjung akan di suguhkan dengan pemandangan perkebunan teh milik warga setempat. Jika cuaca cerah pengunjung akan melihat hamparan perkebunan teh yang hijau d seolah tidak ada batasnya.

Komplek candi sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar atau penduduk setempat sebagai tempat ziarah maupun tempat pemujaan. Candi Ceto dibuat pertama kali oleh Van de Vlies pada tahun 1842. Berdasarkan keadaannya saat reruntuhannya diteliti, candi ini diperkirakan sudah berusia tidak jauh berbeda dari Candi Sukuh, yang cukup berdekatan lokasinya.





Sekarang kompleks candi ceto, terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, terlihat dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat dusunceto.

Pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi dengan aksara Jawa Kuno berbunyi Pelling Padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku. Tafsiran dari tulisan tersebut adalah fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan peyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu pada tahun 1397 Saka atau dalam Masehi 1475 Masehi. Diteras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. 

Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Pada aras ke delapan terdapat arca phallus ( disebut “kuntobimo”) disisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud Mahadewa. Pemujaan terhadap arca ini melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi. Dan yang terakhir adalah aras ke sembilan merupsembilan merupakan aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Disini terdapat bangunan Batu berbentuk kubus.



Kamis, 05 Juni 2014



Cerita ini merupakan perjalanan, bisa di sebut Traveling, Backpacker, ataupun apalah yang lainnya yang bisa di sebut apa aja, yang penting ini merupakan perjalanan alam mengisi liburan. Jonggring Saloko apa itu ? Jonggring Saloka adalah sebuah pantai yang indah terletak di Desa Mentaraman Kecamatan Donomulyo, berjarak kurang lebih sekitar 70 Km dari pusat Kota Malang.

Pantai ini merupakan salah satu pantai yang ada di Kabupaten Malang yang mempunyai ombak cukup besar. Tak banyak yang mengetahui tentang tempat ini. Perjalananku bersama teman teman, sebut saja si Isya, Aini, Ibat, Venti, Hasan, Mas Adin, Anggar.

Ide untuk pergi ke Jonggring Saloko ini muncul dari ajakan Mas Adin yang udah beberapa kali dari sana. Ide yang muncul sekitar sebulan sebelum keberangkatan ini memiliki persiapan yang cukup. Di tengah tengah sembari menunggu hari H ada sebuah kata kata dari mas Adin, "Kalo misalkan dalam seminggu ini terjadi hujan terus menerus kemungkinan kita berangkat di tunda" itu cuplikan kata dari mas Adin, sempat bimbang, namun apa boleh buat alam bersahabat dengan kita. dalam seminggu tidah ada hujan yang turun.

Sehari sebelum hari H kita melakukan Brefing untuk perjalanan kita besok, karena perjalanan ini bukan hanya sehari, melainkan tiga hari dua malam jadi dibutuhkan persiapan yang matang. Tepatnya pada tanggal 30, 31 Mei dan 1 Juni 2014.

Tak terasa aktu berjalan begitu cepat, sesuai rencana kita berangkat Hari Jumat setelah jumatan jam 1 siang. setelah jumatan kita pun mulai berkumpul di depan Gerbang Universitas Negeri Malang, tapi tak sesuai dengan yang di harapkan maklum la jam karet indonesia sampai sekitar jam 2 masih belum berkumpul semua.

Ya bikin jam karet siap? Aku. Hiks. Saat itu aku masih bertugas sebagai SC (baca stering commite) atau pembimbing kegiatan KSR. Ada satu kendala dari juri, sehingga aku harus menggantikan menjuri sampai dengan sore. Maaf ya man teman. Lama tunggu.

Jam3 an belum slesai juga. Berkali kali aku kabari teman teman untuk berangkat tanpaku, mereka bersikeras menunggu aku sampai selesai. Wahhh aku jadi sangat terharu sekaligus amat bersalah ini.

Dan pada akhirnya kita berangkat jam 4 sore dari kota malang. perjalanan yang di tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan. Kita berangkat dengan menggunakan Sepeda Motor. Karena aku wanita ya menikmati perjalanan saja duduk di belakang di bonceng Mas Addin. Tapi nggak murni duduk doang, tugas lumayan berat kudu nyeimbangin carrier yang sama berat denganku. ihihihi

Jonggring Saloko
Perjalanan Menggunakan Sepeda Motor. Aku yang lagi pegang motor di depan itu, yang pakai masker wkwk
Tak terasa perjalanan sudah mencapai 2/3 perjalanan menuju lokasi kita mendengar suara Adzan Magrib, kita memutuskan untuk mencai Masjid untuk melaksanakan Sholat Magrib. setelah itu kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, keadaan yang semakin gelap memaksa mata kita bekerja lebih ekstra, tak lama melalui perjalanan, keadaan jalan berubah dari sebelumnya rata beraspal menjadi berbatu sehingga perjalanan kita sedikit melambat.

Perjalanan melalui jalan berbatu (Makadam) ini di tempuh kuran lebih 1 jam dengan kondisi gelap gulita hanya lampu sepeda saja yang menerangi jalan. Keanehan keanehan mulai muncul maklum lah berjalan di tengah hutan dengan kondisi jalan yang masih murni alam dan kondisi malam hari. setelah lama mengarungi jalan berbatu pintu masuk Jonggring Saloko pun terlihat.

Kondisi alam yang masih murni membuat hanya kita berdelapan yang berada di tempat itu, jarang pengunjung yang kesana. Ketika melihat jam, sudah menunjukkan jam 8 malam, kita bergegas untuk membangun tempat camping, meskipun hanya beralaskan terpan dan beratapkan langit. Sembari yang lain menyiapkan persiapan makan malam kita bebagi tugas, ada yang menyiapkan makan malam bagian yang cewek menyiapkan, sedangkan yang cowok, bertugas mencari kayu bakar, sedangkan sisanya menyiapkan perlengkapan camping yang lain. setelah semua selesai kita mulai melakukan rintitan acara, sholat isyak, makan malam kemudian api unggun.

Jonggring Saloko
Sholat Isak Berjamaah g boleh ditinggal
Jonggring Saloko
Makan Malam Bersama
Jonggring Saloko
Api Unggun
Jonggring Saloko
Menikmati Kehangatan Api Unggun
 Setelah puas menikmati Api Unggun, tibalah dimana mata ingin beristirahat, tertidurpun kita melakukan shif untuk menjaga barang barang kita. Pagipun tiba tak terasa waktu sudah menunjukkan jam setenagah 5 pagi kita pun bergegas untuk melaksanakan sholat Shubuh. setelah sholat kita melanjutakan dengan Menikmati Pesona Pantai di Pagi Hari. 

Jonggring Saloko
Suasana Pantai di Pagi Hari
Jonggring Saloko
Foto Bersama J8 (baca Ji Eight) 
Jonggring Saloko
Pulau yang menyerupai bentuk Keong
Hari mulai beranjak siang, kitapun bergegas untuk menyiapkan sarapan pagi. sembari mengantri untuk memasak ada yang mengganti pakaian, ada pula yang masih narsis berfoto ria.Menu makan pagi kali ini, menu pailing mudah untuk di nikmati pada waktu camping adalah mie adapun juga energen tanpa meluapakan secangkir kopi di pagi hari.
Jonggring Saloko
Sarapan Pagi
Jonggring Saloko
Sarapan Pagi
Jonggring Saloko
Foto Bersama Menunggu Hempasan Ombak
Saking asiknya Berfoto sampai lupa kalo semakin siang ombak semakin besar, sehingga hampir saja terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan. Hempasan ombak yang besar membuat si Venti hampir terseret ombak namun dapat di bantu oleh Hasan Alhamdulillah Alam masih bersahabat dengan kita sehingga kejadian itu tidak menjadi hal buruk.

Namun kejadian itu tidak membuat diri kita menjadi trauma. Masih saja bermain dengan ganasnya ombak, sehingga hal tesebut terjadi lagi. Kini Giliran Anggar dan Hasan yang terseret obak, dan sekali lagi Alam masih bersahabat dengan kita sehingga kejadian itu tidak berakibat fatal. Hari semakin beranjak siang, kitapun melanjutkan untuk menikmati pesona Jonggring Saloko yang sebenarnya, ada dua tempat yang menjadi ciri khas Jonggring Saloko.
Jonggring Saloko
Penyu. Kapan lagi bisa melihat penyu secara langsung begini hihihi
Jonggring Saloko
Karang "Ngebros"
Jonggring Saloko
Menikmati Hempasan Ombak
Dalam menuju ke pesona "Ngebros" yang merupakan  ciri khas Jonggring Saloko kita menemukan penyu sedang merapat ke pantai namun tidak sampai menuju ke pantai, dari murninya kawasan ini dan masih jarang di datangi oleh wisatawan membuat penyu penyu itu masih betah berada di tempat ini. kejadian ini yang pertama kali di lihat oleh si Aini di mengatakn "Ada Kura Kura Laut" kita pun terkejut mendengar kata kata itu. lalu berpikir sejenak dan ternyata yang di maksud itu adalah penyu.

Setelah puas mencari cari penyu itu beberapa kali terdengar suara keras yang di hasilkan oleh "Ngebros" apa itu? "Ngebros" adalah suatu tempat yang terdapat karang yang terdapat lubang besar, yang mana ketika ombak besar menghantamnya akan terjadi semburan air laut yang tinggi ke angkasa. Beberapa kali kita mengabadikannya namun tidak di perbolehkan oleh alam. Akhirnya muncul kata kata dari Mas Adin "Cukup di nikmati di sini saja tidak untuk di bawa pulang" Setelah puas kitapun melanjutkan menuju pesona yang selanjutnya.
Jonggring Saloko
Bermain Main dengan Pasir Hitam
Jonggring Saloko
Bermain Main dengan Pasir Hitam
Pesona Jonggring Saloko yang satu ini "Pantai Pasir Hitam", dipantai ini anda akan melihat hamparan pasir disepanjang pantai yang berwarna hitam pekat dan pasirnya halus lembut. Puas bermain main dengan pasir hitam. udah waktunya kita menuju ke muara untuk membersihkan diri.
Jonggring Saloko
Berenang di Muara
Sembari berenang di muara. tak pas rasanya kalau tidak mencari sesuatu, bertemu dengan orang di sekitar,menawarkan degan. tanpa berpikir panjang kitapun langsung menerima pemberian warga tersebut. Hayo tebak kita petik kelapa dengan apa? Aku cerita saja kali ya. Kita nggak enak dong sudah ditawari masak minta dipetikkan. Nah ini si Aini yang rumahnya di lampung dekat dengan pantai inisiatif menawarkan diri buat metik. Naiklah dia di atas pohon, tapi sayang g bisa bawa turun klapanya. Ganti kemudian Hasan dan Anggar yang naik dan kita kayak panen klapa saja metik nggak tanggung tanggung. 12 buah klapa hahahahahahaa. Kita itu nggak bawa pisau atau sebangsanya, ya akhirnya kelapa itu bajakan kita pukul pukulkan deh. Bukan sama kepala kita masing masing lho ya, kita pukulkan di karang dekat watu ngebros sana nanti.

Hari semakin sore sesuai rencana kita kembali lagi ke "Ngebros" untuk menikmati matahari terbit, eh salah maksutnya matahari terbenam.
Jonggring Saloko
Pantai Jonggring Saloko di sore hari
Jonggring Saloko
Menikmati Kelapa Muda di Senja Hari
Jonggring Saloko
Menikmati Kelapa Muda di Senja Hari. Abaikan muka ya, menghayati makan dan minum klapa ini.
Jonggring Saloko
Menikmati Kelapa Muda di Senja Hari
Puas menikmati kelapa muda kitapun kembali menuju ke tempat camping untuk melanjutkan istirahat. malampun semakin larut, apakah agenda malam kedua ini di Jonggring Saloko ? . Agenda malam ini acaranya Nonton Bareng. Nobar di Pantai. Kita kan para anak anak mileneal begitu yang mantai pun tetap bawa laptop coba wkwkwk. Tujuan utamanya sih cuman buat properti foto sih aslinya tapi akhir dimanfaatkan lebih dengan nonton. 

Kali ini kita bukan nonton film lho. Kita lihat lihat foto foto yang sudah kita kumpulin sampai dengan hari ini. Alhasil kita amalah dibuat ketakutan dengan fotonya. Beberapa foto ada penampakan. Maaf ya g boleh nampilin foto yang dimaksud karena ini bakalan nyinggung si penunggu dan kalian pembaca bakalan takut juga. hehehe. 

Jonggring Saloko
Nobar di Pantai
Malampun semakin larut, waktunya kita untuk beristirahat karena besok masih ada perjalannan pulang yang cukup menguras tenaga, tak terasa malam begitu cepat, pagipun mulai menghampiri. Keberadaan kita di Jonggring Saloko akan segera berakhir, sebelum pagi menjelang kita semua bangun, kecuali si Aini yang belum di bangunkan, karena tepat hari ini dia berulang tahun sehinggak kita bikin kejuatan untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Jonggring Saloko
Merayakan Ulang Tahun Aini
Jonggring Saloko
Perhatikan tangan kita, kita lagi buat pesan buat Aini. Aini love 
Tak terasa pagi pun menghampiri, sebelum kita pulang kita melakukan packing bersih bersih tempat camping. kemudian berfoto sejenak untuk mengabadikan hari terakhir kita di Jonggring Saloko

Jonggring Saloko
Foto Bersama

30, 31 Mei, 1 Juni 2014 ...... JONGGRING SALOKO
KEBERSAMAAN ..... CANDA .....TAWA ..... SUKA ..... DUKA
KENANGAN

NEXT TIME 
kita akan berjumpa lagi

Jonggring Saloko
30,31 Mei dan 1 Juni 2014 Jonggring Saloko
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.  Ketika alam dan pertualangan memanggil, Kejarlah dengan caramu. Waktu kita sangat sempit, tetapi belum terlambat untuk melakukan sesuatu sekarang. mulailah dengan hal yang kecil, hal kecil bila dilakukan terus menerus maka akan menjadi sesuatu yang besar.

Jumat, 24 Januari 2014


Senja mengulum air mata ketika laksmana volunteer datang di bangunan markas tua kami. Semarak dari kejauhan terlintas bara semangat daun muda yang senantiasa tetap abadi dalam gedung  itu. Regenerasi anggota berhasil mencetak anggota yang rela hati menapakkan kaki mereka di tanah berlumpur usai hujan, berjalan menyusuri kampus UM seraya menikmati mentari yang tak kentara, menadah tangis langit dalam berhijrah dari kediaman mereka yang gulita ke kampus yang benderang—jelas saja karena sore itu daerah kos-kosan dekat kampus UM sedang mati listrik, entah bagaimana ceritanya listrik di UM baik-baik saja.

Dalam beberapa hari lagi, organisasi ini—gedung ini bahkan kami para penghuni markas ini akan berganti usia. KSR sudah paruh baya, 33 tahun sudah ia mengemban tugas kemanusiaan dengan silang berganti pemimpin tiap tahunnya. Serangkaian acarapun disusun sedemikian rupa. Penggalanggan dana dibawah terik melintas batas kampus UM, tak kenal lelah dengan rendah hati mencari video ucapan selamat ulang tahun—tak ketinggalan video dari pak Rektor. Malam Rabu tanggal 15 Januari sebagai tanda syukur atas terbentuknya pengurus baru dan do’a bersama untuk kesuksesan KSR maka diselenggarakan yasinan dilanjutkan dengan perhelatan ulang tahun terbesar di bulan januari. Setidaknya ada 15 orang yang serentak meniup lilin kue ulang tahun sederhana yang telah disiapkan oleh pengurus.

Kemanusiaan sebagai tugas utama yang senatiasa tersemat dalam pundak KSR, membuat para pengurus menggelar perayaan ulang tahun bersama anak-anak panti asuhan Diponogoro di daerah lawang. Tengah hari usai jama’ah sholat dhuhur, serombongan berangkat dengan naik angkot biru, sisanya yang lain menyusul di belakang dengan naik motor berboncengan. Berbagi kasih dan bahagia dengan anak-anak panti membuat dies natalis KSR semakin berwarna. Indah warna pelangi—hanya saja jika pelangi yang indah muncul setelah hujan, suasana sore itu sedikit berbeda.  Kami munculkan dulu kenangan indah dan kecerian bersama anak panti, selanjutnya berpasrah diri ditempa derasnya air hujan dalam perjalanan pulang kembali ke markas.

Tak henti sampai disitu, hari minggu keesokan harinya kami menggelar perlombaan tarik tambang dan makan krupuk antar UKM. Pesertanya berasal dari 16 UKM yang berbeda. Perlombaan dimulai dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 11.15. Di akhir keluarlah para pemenang, dalam lomba tarik rambang juara pertama diraih oleh Nur Harias kemudian disusul oleh Perisai Diri. Dan dalam lomba makan krupuk juara pertama disabet oleh Teater Hampa, kemudian IPRI dan Nur Harias.

Puncak acara perayaan dies natalis KSR PMI Unit UM tahun ini adalah pesta ulang tahun yang dilaksankan pada tanggal 23 januari 2013 pukul 18.30 bertempat di gedung sasana budaya UM. Tak tanggung-tanggung KSR UM menyiapkan tampilan istimewa dengan tarian yamko rambe-yamko, mengundang keluarga besar KSR yang terhitung sudah 31 generasi, mengundang teman-teman UKM, mengundang pula partner satu visi KSR PMI se-antero jawa timur.

Malam puncak ini dimerihkan dengan penampilan nasyid AMANI. Sengaja kami menghadirkan nuansa islami karena memperingati juga hari maulud Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 24 Januari 2013. Harapan kami dengan usia yang terbilang tua, semoga di hari esok KSR tetap memilki kejayaan masa lampau, menjadi lebih baik tiap satuan detiknya, berkreasi dan berinovasi, berbakti pada negeri, memikul kemanusiaan menjadi tugas yang senang hati diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari.


Selasa, 07 Mei 2013




Memorian, 32 Jam di Ponorogo

Perjalanan ini…. terasa sangat melelahkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita…..
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering,
Bebatuan
(Ebit G. Ade)

            Sabtu pagi usai shubuh berkumandang, kurasa getar dari atas ranjang—tepat disampingku. Ponselku nampaknya sudah bordering sejak beberapa menit yang lalu, namun baru sekarang mampu kudengar irama merdunya. Dengan mata sayu kuangkat telepon dari teman lama di organisasi yang menyibukkanku dengan beragam kegiatan. Ahhh, telpon dari Kak Dwi. Ada apa gerangan pagi-pagi buta begini, ia menelponku. Aku terdiam sesaat. Berpikir. Aku letakkan kembali ponselku di atas ranjang dan berlari ke kamar mandi.

            Malang di pagi hari membuatku enggan untuk mandi, tapi tetap aku paksakan. Aku baru ingat kalau pagi ini aku dan kelima teman-teman KSR harus berangkat ke medan laga di Ponorogo. “Eka, jam setengah lima kita kumpul di markas. Jam lima kita berangkat ke landung dianter temen-temen. Kita naik bis umum untuk ke Ponorogo”, kata-kata kak Wiwit berputar dalam telingaku—membentur gendang teliga kemudian kembali berdengung suara seperti itu lagi. Tuhan, pasti aku akan datang telat diantara kami berenam. “Ma’af kawan, semalam aku tidur terlalu larut hingga bangun agak siang dan belum melakukan packing barang”, gumamku membela diri.

            Mandi pagi cukup lima belas menit. Ponselku masih saja menyanyi dan menari sampai kudengar kakak satu kamarku meneriakkan kata, “akhwat, lagunya lho”. “Afwan, kak”, jawabku seraya mempercepat langkah mendekati ponsel. Ada tiga pesan baru dan tujuh panggilan tidak terjawab. Tertulis dari KSR Meiria, KSR Kak Dwi, KSR Kak Wiwit. Woooowww… sesaat aku tersenyum merasa seperti orang penting dan sangat dibutuhkan melihat banyaknya yang menghubungiku. (heheeeeeheee)

            Singkat cerita, kami berempat (aku, Meiria, kak Wiwit dan satu orang teman yang tak terduga kebersamaannya bersama kami—Anang). Kami bertemu di terminal Landungsari, buru-buru mengejar bus Puspa Indah yang akan berangkat. “mana baramg bawaan yang katanya banyak sampai aku nggak boleh berangkat duluan ke terminal naik angkot?” tanyaku pada mereka setelah masing-masing dari kami duduk di kursi penumpang. “noo, kardus itu. Jaga baik-baik kardusnya. Itu harga mati kita. Sesampainya di Ponorogo  kita makan habis itu nata tempat dan dilanjutkan dengan briefing tugas esok hari”, ujar PJ (penanggungjawab) Rayon Ponorogo. “OK. Aku juga lapar belum sarapan”.

            Pukul 06.00 kita meninggalkan kota Malang dan beranjak ke Jombang lewat Batu. Hening, tanpa suara. Semua diam entah menahan mualnya perut yang teraduk karena lintasan batu-pujon yang berkelak-kelok ataukah melambung dalam alam mimpi masing-masing. Anang yang biasanya ramai, juga terdiam. Duduk di kursi paling belakang—menyandarkan badan ke jendela yang tak bisa dibuka di sebelah kiri, menatapi ponsel dan menggerakkaan jemarinya. Aku tertawa dalam hati melihat ekspresi teman-teman. Mereka menahan sakit dan mencoba membuat nyaman diri mereka sendiri. Ini perjalanan panjang—6 jam—dengan rute yang belum pernah mereka lewati. Suyngguh lucu melihat mereka dalam keadaan yang demikian.
           
            “Ka, kamu sudah pernah lewat sini kan? Masih berapa lama lagi sampai di jombang?” Tanya Kak Wiwit ketika bus kami berhenti lama di daerah kabupaten Kediri. “sekarang jam berapa? (aku mencoba menerka dengan mengurangkan angka tiga dengan waktu yang telah kami tempuh). Mungkin sekitar satu atau satu jam setengah lagi”. “ahhh, masih lama”.  Sebetar kemudian Kak Wiwit tertawa riuh di belakang karena Anang bertingkah konyol.

            “Mas, sampeyan rayonisasi dimana? Kita nanti berarti mencar sendiri-sediri          no. Aku rayonisasi di Bojonegoro.”
            “Lhoh… Mey iki yo opo sech. Ngapain dia nitipin camdig ke Anang lo kita           beda tempat.            Ahh, mungkin nanti sebelum pencar camdignya diminta lagi           oleh Mey”, geming Kak Wiwit.
            “Hah…. Opo Bojonegoro. Kita i semua Rayoisasi ke Ponorogo, Anang. Bukan             Bojonegoro. Aku memang asli Bojonegoro tapi nggak ikut rayon Bojonegoro.             Ponorogo”. Sambung Mey dengan senyum dan nada tegas di akhir kalimatnya.
            “Ealah. Tak kirain aku ditempatkan di Bojonegoro lha semalem aku ngangkat       telpon dari Mbak Nike dengan setengah sadar ngono. (Anang mempraktekkan      ia mengangkat ponsel             dengan kedua jari memegang gagang ponsel again atas        dan dengan mata masih menutup             seraya mengatakan, ‘ohhh.. iyo Mbak.           He’em..he’em’).
            “Aduh. Anang. Beda atuh Ponorogo dengan Bojonegoro. Rutene aja dah    beda”,             sambungku sambil tertawa.

            Berkat Anang kami beremapt bisa tertawa leps dan sejenak melupakan penat karenan lamanya perjalanan. Perjalanan sungguh panjang, usai tiga jam perjalanan sampai dengan Randu, Jombang. Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan tujuan kota Ponorogo dengan Bus Panda Hijau (Bus Restu). Kasihan Anang, karena maksimal bangku di Bus cuma terdiri dari tiga kursi, Anang harus duduk di bangku belakang kami sendirian.

            Beda cerita antara kami yang berada di Bus Puspa Indah yang difasilitasi AC (angin candela) dengan bus Restu yang punya AC beneran. Di Bus ini kami sunguh sangat ramai. Berdebat tentang warning ataukah jagung yang akan dibeli, mana yang lebih banyak akan dibeli—warning ataukah jagung, pilih beli koro, melinjo, kacang telur, ataukah permen tape, berapa jumlah masing-masing yang akan dibeli. Konyolnya lagi, kami menarik Pak Penjual Koro dkk ketika akan turun dari bus karena kami belum selesai memutuskan apa dan berapa yang akan kami beli. Menggelikan. Sampai-sampai penumpang di kursi depan kami banyak kali menoleh kebelakang.

             Tiga jam kemudian kami tiba di terminal Ponorogo. Lelah sekali rasanya tubuh ini. Enam jam perjalanan, dan masih harus dilanjutkan dengan 15 menit lagi perjalanan ke SMAN 2 Ponorogo dengan bus jurusan Trenggalek. Keluar dari Bus Restu dengan fasilitas AC dan pertama masuk ke Bus Trenggalek tanpa AC, rasanya seperti di masukkan dslam oven. Sudah tahu udara panas seperti itu, malah kami masih disuruh menunggu lama sekali. Rasanya benar-benar seperti diminta duduk manis di atas panggangan roti dan dinyalakan di atas kompor. Panas… Gerah.. Capek, berbaur jadi satu. Anang, tak bisa berkutik ketika berada di bus ini. Enam jam yang lalu ia terjaga disaat kami semua tidur, sekarang giliran ia yang merebahkan badan pada tasnya kemudian memejamkan mata.

            SMAN 2 Ponorogo, sekolah yang tertata rapi namun cukup sepi ketika kami sampai disana. Rencana awal tak terlaksana sewajarnya, kami membersihkan dan menata empat ruang kelas terlebih dahulu sebelum akhirnya makan siang di kantin sekolah. Hahahhaha…. Kagi-lagi hal konyol dan menggelikan terjadi. Kini setting tempatnya berada di kantin. Ponorogo benar-benar kota yang panas sekali, sampai-sampai Aku dan Anang menghabiskan 3 gelas minuman dalam waktu yang singkat. Mey dan Kak Wiwit juga begitu, hanya saja mereka menghabiskan 1 gelas minuman lebih sedikit dari kami. Mey dan Kak Wiwit terheran melihat aku dan Anang yang makan sambel begitu banyak. “Gila, satu mangkok sambel habis oleh kalian berdua,” gumam Kak Wiwit dan Mey Ria.

            Usai makan kami melanjutkan perjalanan ke kediaman Kak Dwi. Sayang sekali, satu motor bocor dan harus segera ditambal. Lucunya dalam pencarian tambal ban, Kak Dwi tidak menyadari kalau Lucy tertinggal di sekitaran pawai anak TK. Ia harus alik arah menjemput Lucy yang tertinggal.

            Di rumah Kak Dwi kami berlima dijamu dengan teramat baik. Disuguhkan jus jambu biji, roti jawa, juga dimasakkan makan malam dan  pagi yang lazis mantap kali, ditambah lagi snack ringan, buah-buahan, juga minuman hangat di pagi hari setelah bangun dari tidur. Penjamuan yang begitu istimewa. Malam hari usai makan malam, sebenarnya kami berencana berkeliling alun-alun dan melihat nuansa kota Ponorogo tatkala malam, sayangnya langit menagis begitu hebat sambil berteriak memekakkan telinga. Pukul 10.00 baru langit tenang, tapi kami teranjur menikmati istirahat malam hingga akhirnya rencana pergi ke alun-alun tinggallah rencana.

              Pagi menjelma begitu cepat, kami berenam bergegas erangkat ke SMA dengan 2 sepeda motor. Sesampainya di sana peserta sudah bergerumbul dengan team mereka masing-masing. Dalam hati malu rasanya, peserta sudah datang sedangkan kami dri pihak panitiamasih belu siap. Kami masih harus menyiapkan meja kesekretariatan, meja tempat souvenir, memasang bendera PMI, juga yang tak kalah penting mengecek kelengkapan berkas ujian tulis dan melakukan briefing sebelum akhirnya memasuki ruang ujian. Ujian berlangsung dengan tertib dan kondusif mulai pukul 10.00 hingga pukul 12.00.

            Pagi hari suasana agak memanas karena terjadi sedikit kericuhan dengan pendamping team dari sebuah sekolah yang tidak terima dengan adanaya peraturan “peserta yang diganti harus mengikutsertakan surat keterangan sakit maksimal pukul 13.00 hari itu juga”. Pendamping tersebut sampai melaporkan ke PMI Daerah Jawa Timur via telepon dan mencari dukunga dari mereka. Kami tak gencar dengan adanya masalah yang demikian. Inilah peraturan yang kami miliki dan tlah disepakati bersama oleh Panitia Jayapalmera VII KSR PMI Unit UM. Setiap permainan mempunyai aturan yang harus dipatuhi, barangsiapa ingin ikut bermain maka taatilah peraturan permainan yang telah ada tersebut.
            Pukul 14.00 kami berlima meninggalkan SMAN 2 Ponorogo menuju alun-alun kota. Kami melihat sebatas lewat memutari alun-alun, makan siang di warung pojok dekat Masjid Agung yang menyediakan makanan dengan harga selangit beda sekali dengan kantin SMAN 2 Ponorogo yang menyediakan makanan dengan harga pas di kantong. Naik bus jurusan terminal Ponorogo dan lanjut dengan Bus Restu untuk pulang ke Jombang. Melalui rute yang sama seperti berangkat, semuanya pulang ke Malang kecuali aku. Aku memisahkan diri di terminal Madiun—pulang ke Ngawi dengan bus sugeng Rahayu dengan satu jam perjalanan.

            Meski takbanyak yang kami lakukan di Ponorogo, 32 jam memberikan pengalaman yang menarik dan berkesan bagi kami. Suatu ketika ketika kami kembali ke kota reog tersebut, kota Ponorogo akan berkisah tentang masa silam kami disana. Kadang tersenyum hingga tertawa keras bersama, bingung dan saling memarahi, menikmati kudapan bersama. Sampai nanti. Kawan. Terimakasih pula untuk kakak alumni yang telah berkenan hadir dan membawakan banyak makanan kepada kami. Dengan setulus hati kami merasa senang dengan kehadiran kalian yang masih ingat dan peduli dengan KSR beserta anggotanya. Kami merasa tersanjung dengan kehadiran kalian dan bantuan yang telah kalian berikan.

A call-to-action text Contact us