:::: MENU ::::
  • Filosofi Tea

  • Diri Baru di Tahun yang baru (Sebuah refleksi akhir tahun)

  • Harga Diri, depresi hingga akhiri hidup dengan bunuh diri

Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 November 2017

Pendahuluan
Psikologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan, tengah dianggap oleh masyarakat populer secara umum sebagai sebuah pengetahuan paranormal (bisa memprediksi atau memetakan profil seseorang). Ada pula masyarakat yang menganggap bahwa psikologi atau seorang psikolog adalah bagi orang-orang yang sudah “gila”, yang kemudian profesional psikiater dan psikolog disamakan.

Psikolog adalah paranormal
Pada dasarnya, psikologi adalah bukan seperti yang ada dalam paradigma masyarakat sekarang. Hanya saja, dalam masyarakat dengan konstrual yang relatif tradisional, kemudian menerima demikian saja informasi sederhana yang ditangkap. Anggapannya paranormal, adalah ketika seorang psikolog yang sudah melalui proses observasi, wawancara, konseling, maupun proses psikologis lainnya berhasil memetakan secara tepat profil seseorang.

Berkenaan dengan paparan saya diatas, maka jelas, bahwa ketika seorang psikolog atau akademisi psikologi berhasil memetakan profil seseorang, adalah bukan karena sebuah proses mistis, melainkan adalah melalui proses empiris. teknik-teknik yang kami biasa gunakan adalah observasi (sebuah metode mengamati tingkah laku, yang kemudian setiap tingkah laku di pilah dan kemudian di telaah dengan teori tertentu, lalu di asumsikan arti dari tingkah laku tertentu), wawancara (sebuah metode dengan interaksi verbal, dan mencoba untuk menggali proses kognitif seseorang, yang kemudian setiap kata yang terucap di pilah berdasarkan teori tertentu, lalu di asumsikan atau diaplikasikan berdasarkan fakta yang ada),  konseling (sebuah proses wawancara lebih mendalam dan lebih terarah, untuk memfasilitasi seseorang menemukan solusi), proses psikologis lainnya seperti pengerjaan alat tes psikologi (MMPI, tes Inteligensi, tes temperamen, dan lain-lain).

Psikolog bagi orang gila
Gila adalah sebuah kata yang di gunakan oleh masyarakat awam untuk mengungkapkan sebuah kondisi tidak berfungsi dengan baiknya cara interaksi seseorang terhadap yang lain. Dengan bahasa psikologis, seorang yang dinyatakan “gila” oleh masyarakat awam, adalah seorang yang tidak sama secara tingkah laku dengan masyarakat secara mayoritas (secara statistik, signifikan tidak berada dalam distribusi normal). Namun lingkup psikologi bukan hanya pada masyarakat yang “gila”. Bahkan akan lebih baik ketika belum “gila” sudah membawa diri ke pendekatan psikologi. Dalam analogi kedokteran kira-kira dapat saya gambarkan demikian :” jangan ke dokter ketika sudah stadium 4, karena sudah terlambat. Konsultasikan diri sebelum mengalami yang lebih parah. Psikolog tidak hanya berfungsi sebagai terapis ketika sudah mengalami penyimpangan yang parah (“gila” dalam bahasa psikologis adalah “penyimpangan”), namun juga bisa sebagai detektor sebelum terjadi penyimpangan, atau mendeteksi kemungkinan penyimpangan itu. Psikolog juga dapat menjadi konselor, ketika seseorang membutuhkan nasihat psikologis, misalnya bagi perkembangan anak, cara belajar, hubungan dengan rekan sekerja, hubungan dengan atasan, hubungan dalam keluarga, dan sebagainya. Untuk itu jelas bahwa Psikolog tidak hanya bagi orang “gila” saja bukan?

Psikolog dan Psikiater
Psikolog dan psikiater adalah sebuah profesional yang menggunakan pendekatan kejiwaan sebagai alat untuk mengetahui atau menganalisa seseorang yang menjadi klien. Perbedaanya kemudian terletak pada objek studi secara dominan dari kedua profesi ini. Pada profesi psikiater, fisik dari kejiwaan itu sendiri menjadi pusat atau dasar pre asumsi yang ditarik untuk setiap analisa simptom yang digunakan.  Sementara pada profesi psikolog, pendekatan terhadap bagaimana seseorang bertingkah laku, menjadi pusat atau dasar pre asumsi. Dan untuk setiap profesi ini jelas, bahwa masing-masing mempelajari cara intervensi yang berbeda. secara fisik, tentu cara intervensi yang paling dapat di gunakan adalah secara kimiawi, sementara untuk tingkah laku, maka perlu adanya terapi khusus yang menyangkut kepada bagaimana proses kognitif seseorang hingga memunculkan tingkah laku tersebut.

Saran
perlu adanya sebuah media pertukaran informasi yang relevan dengan masyarakat Indonesia yang cenderung mengadaptasikan informasi cukup yang tersedia di hadapannya. Dengan demikian, maka media yang diharapkan ini haruslah interaktif dan mengundang antusiasme masyarakat Indonesia. Asumsi ini saya tarik karena melihat kecenderungan masyarakat Indonesia akan sebuah peristiwa yang luar biasa dan ketika mereka bisa terlibat di dalamnya, maka kemudian akan menarik lebih banyak orang lagi untuk ikut di dalamnya, dan bahkan mengundang perilaku kritis bertanya untuk informasi yang dibutuhkan agar dapat terlibat lebih jauh.

Referensi
Anastasi, Urbina. Psychological testing.
Aronson, E., Wilson, T.D., Akert, R.M. 2004. Media and Research Update : Social Psychology, 4th ed. New Jersey : Prentice-Hall.
Ashcraft, M. H. 1994. Human Memory and Cognition, second edition. USA: HarperCollins College Publishers.
Harbelandt, K. 1999. Human Memory: Exploration and application. USA:Allyn & Bacon
Murphy, K.R., Davidshofer, C.O..2005. Psychological Testing. Pearson Prentice hall.
Observation skill.
Santrock, John W. 2006. Life-span Development. New York : McGraw-Hill
Schultz,D. 1976. Theories Of Personality. Wadsworth :California.
Wortman, C.B., Loftus, E.F., Weaver, C.. 1999. Psychology fifth edition. Mcgraw-Hill college.

Selasa, 19 Maret 2013



PERNIKAHAN
A.    Definisi Pernikahan

Pernikahan adalah komitmen emosional dan legal mengenai berbagi emosi dan tugas, penyatuan dua keluarga dan jaringan sosial, unit reproduksi dan sosialisasi bagi anak.


B.     Keuntungan Pernikahan

Beberapa keuntungan dari pernikahan adalah:

1.    Secara fisik lebih sehat karena dengan adanya orang lain dalam kehidupan kita, mau tidak mau kita harus memikirkan orang tersebut dan kehati-hatian diri kita sendiri menjadi meningkat

2.    Secra statistik hidup lebih lama dikarenakan fisik lebih sehat

3.    Secara seksualitas kebutuhannya terpenuhi

4.    Secara kesejahteraan lebih baik karena ada penggabungan aset ekonomi

5.    Anak menjadi berkembang lebih baik dengan adanya orang tua lengkap


C.     Alasan Pernikahan

ALASAN POSITIF
ALASAN NEGATIF
1.      Sebagai teman hidup
1.      Hamil sebelum nikah
2.      Menjalin cinta dan kedekatan
2.      Sebagai bentuk pertentangan terhadap orang tua
3.      Mendukung pasangan
3.      Mencari kemandirian
4.      Memuaskan hasrat seksual
4.      Pelarian dari hubungan dengan orang lain
5.      Menjadi orang tua
5.      Tekanan keuangan/masyarakat
6.      Keamanan ekonomi


D.    Tipe pernikahan

1.      Devitalized

-  Pernikahan yang membawa manfaat

-  Terjadi pada pasangan yang usia pernikahannya masih muda

-  Tinggal bersama karena tidak ada alternatif lain

-  Timbulnya ketidakpuasan dalam segala hal

-  Memiliki ekspektasi negatif terhadap pernikahan

2.      Finansial

-  Fokus pernikahan pada segi ekonomi

-  Karir paling penting dalam pernikahan

3.      Conflicted

-  Permasalahan pada semua hal, tapi berusaha menghindar dengan menganggap permasalahan tersbeut tidak ada

-  Untuk mengatsi permaslahan yang terjadi masing-masing dari pasanagan menyibukkan diri dengan kegiatan di luar pernikahan yang mampu membuat mereka bahagia

4.      Traditional

-  Kepuasan rata-rata

-  Permasalahan terletak pada komunikasi dan seksualitas

-  Mengembangkan hubungan yang kuat dengan extended family

-  Dialami oleh pasangan usia dewasa tengah

5.      Balanced

-  Ketidakpuasan setara dengan kepuasan dalam permasalahan

-  Permasalahan terletak pada finansial

-  Terdapat kompromi dalam problem solving

-  Timbul di keluarga menengah ke bawah karena waktu yang dihabiskan dengan keluarga lebih banyak

6.      Harmonious

-  Harmonis dari segi finansial, komunikasi dan seksualitas

-  Permasalahan terletak pada anak

-  Timbul di keluarga muda yang menganggap anak sebagai beban

7.      Vitalized

-  Kepuasan tinggi terhadap pasangan

-  Timbul di pasangan usia lanjut, setelah terjadi penyesuaian dengan pasangan selama 30 tahun (10 tahun pengenalan, 10 tahun penerimaan, dan 10 tahun penyesuaian)


 KELUARGA
  A. DEFINISI KELUARGA
Menurut pengertian psiokologis keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya perbuatan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling menyerahkan diri (Soelaeman 1994 : 5-10).
Sedangkan dalam pengertian Pedadogis keluarga adalah “satu” persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua  jenis manusia yang kukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri itu terkandung perealisasian peran dan fungsi sebagai orang tua (Soelaeman 1994 : 12).
B.     TIPE KELUARGA
1.      Two Generation
-       Nuclear Family, terdiri dari suami/ayah, istri/ibu, dan anak—baik anak adopsi maupun anak kandung
-       One Parent Family, terdiri dari janda, ibu tidak menikah dan pasangan cerai
2.      Three Generation
-       Extended Family, terdiri dari keluarga inti+kakek/nenek, keponakan, keluarga pologami, keluarga poliandri, dll


Daftar Pustaka
Olson, D.H. & DeFrain, J. 2003. Marriage and Families: Intimacy, Diversity, and Strengths. Boston: McGraw Hill.

Dewi, E.M.P, Basti. 2008. Konflik Perkawinan Dan Model Penyelesaian Konflik Pada  Pasangan Suami Istri. (Online), diakses 12 Maret 2013

Suryani, Anne. Perkembangan Hubungan Perkawinan: Kajian Tahap-Tahap Perkembangan Hubungan  Antarpribadi pada Suami-Istri Katolik.  Jurnal Ilmu Komunikasi, (Online), 1 (2):  131-142, diakses tanggal 12 Maret 2013

Jumat, 15 Maret 2013




Skala yang dibuat Hendrick dan Hendrick (1990) berdasarkan hasil penelitian Lee (1976) mengarah pada pembahasan tentang enam jenis cinta. Skala ini dirancang untuk mengidentifikasi gaya-gaya yang merefleksikan keyakinan tentang cinta, mengacu pada enam jenis cinta yaitu:

a)      Eros, keindahan dan seksualitas. Cinta jenis ini mengutamakan kecantikan dan ketertarikan fisik. Bila sudah bosan atau merasa sudah tidak tertarik lagi secara fsiik maka akan terjadi putus cinta.

b)      Ludus, hiburan dan kesenangan yakni cinta yang dijadikan sebagai ajang permainan. Pelakunya biasa mendapat julukan playboy untuk laki-laki dan playgirl untuk perempuan. Bagi mereka yang menganut cinta ini, kesenangan dan semangat menggebu terjadi saat mengejar orang yang dicinta, namun ketika orang yang dicinta sudah ada dalam genggaman maka ketertarikannya hilang. Cinta tipe ini juga tidak dilandasi komitmen.

c)      Storage, penuh damai dan perlahan.  Tidak secara khusus mencari kekasih tetapi lebih mengukuhkan hubungan persahabatan dengan seseorang yang dikenal dan kepada siapa mereka berbagi ketertarikan dan aktivitas. Misalkan saja cinta yang terjadi dari dua sejoli teman kecil (cewek dan cowok), sering menghabiskan waktu bersama dan  menyelesaikan permasalahan atau bahkan membuat permasalahan bersama. Dalam bahasa jawa sederhana, “witing tresno jalaran soko kulino”. Yang penting dalam cinta ini adalah kedekatan dan keakraban, bukan seksualitas.

d)      Pragma, praktis dan tradisional. Menginginkan  compatibility dan hubungan yang bisa memuaskan kebutuhan dan keinginan yang penting, lebih memperhatikan kualifikasi sosial daripada kualitas pribadi dari pasangan potensialnya. Dalam tipe cinta ini tidak ada romantisme. Hubungan pasanagan hanyalah sebatas rekan kerja atau simbiosis mutualisme. Apa yang anda bisa berikan kepada saya?, dan apa yang saya bisa berikan kepada anda?

e)      Mania, kegembiraan dan depresi. Mencintai dengan sangat kuat dan pada saat yang sama sangat takut kehilangan cinta,  sangat pencemburu, obsesif terhadap pasangan, kurang memiliki citra diri, dan harga diri diperoleh dari cinta yang diberikan. Jenis cinta ini kebanyakan dimilki oleh para remaja. Cinta jenis ini muncul karena perasaan cinta yang terlalu besar tanpa disertai logika. Tak heran, penganut jenis cinta ini lebih besar kemungkinan untuk depresi.

f)       Agape, yakni cinta penuh kasing sayang tanpa memperhatikan imbalan atau keuntungan pribadi. Cinta jenis ini masih sangat jarang dan biasanay terjadi pada masa dewasa akhir.

Rabu, 26 September 2012




Ø  Hierarki Kebutuhan Maslow

1.      Kebutuhan Fisiologis (Psysiological needs)

merupakan kebutuhan homeostatik seperti makan, minum, serta kebutuhan istirahat. Setiap manusia pasti mengalami dan memenuhi kebutuhan fisiologisnya termasuk juga dengan bapak Habibie dan ibu Ainun. B.J. Habibie bekerja tidak hanya pada satu pekerjaan saja melainkan bekerja di banyak tempat seperti di perusahaan kereta api di Talbot, asisten Prof. Ebner, dan di perusahaan pesawat MBB untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama isterinya.



2.      Kebutuhan Kemanan ( Safety needs)

merupakan kebutuhan keamanan, bebas dari rasa takut dan cemas. Habibie dan ibu Ainun mendaftarkan dirinya di sebuah asuransi di Jerman agar memiliki jaminan hidup. Adapun bebas dari rasa takut dan cemas dicerminkan dari sikap Bapak Habibie yang berpikir positif mengenai keluarganya yang dikumpulkan bersama saat reformasi tahun 1998 dengan alasan keamanan.



3.      Kebutuhan Dimiliki dan Cinta (Belongingness needs)

merupakan kebutuhan kasih sayang, keluarga, sejawat, pasangan, anak, dan menjadi bagian kelompok masyarakat. Setiap manusia memiliki perasaan untuk di cintai dan mencintai, begitu juga dengan Habibie dan Ainun. Mulai timbul debar cinta di hati Habibi saat berpandang mata dengan Ainun di rumah keluarga Besari. “Gula jawa sudah berubah menjadi gula pasir”, kata Habibi pada Ainun. Meskipun teman-teman Habibie banyak yang meledek beliau, akan tetapi dengan tekad yang kuat akhirnya Habibie bisa menikahi Ainun dan memiliki dua putra.

Sering wajah dan mata kami menyampaikan perasaan dan informasi yang dibutuhkan tanpa berbicara. telepati antara kami terus berkembang kualitasnya. Ainun adalah “lucky angel” dan saya “lucky man”, demikian hubungan kami karena cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi telah menjadikan kami menyatu. (hal 120 paragraf 5)

Ainun dan saya makin dekat, makin menyatu, makin manunggal jiwa, batin dan nurani kami, sepanjang masa dimanapun kami berada. (Hal 131 paragraf 6).

Kami saling mengilhami, dimana ada Ainun disitu ada saya dan dimana ada saya, disitu ada Ainun. Bukan saja teknologi yang menghubungkan kami, tetapi lebih dari itu “getaran jiwa”. kami selalu menghubungi kami dimanapun kami berada (hal 133 Paragraf 1).





4.        Kebutuhan Harga Diri (Esteem needs)

merupakan kebutuhan penguasaan, kompetensi, kepercayaan diri, kemandirian, penghargaan dari orang lain, kehormatan dan apresiasi. Salah satu kebutuhan harga diri yang ada didalam diri Habibie adalah kepercayaan diri serta kemandirian. Habibie termasuk orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Saat teman-temannya mengatakan bahwa beliau tidak pantas dengan Ainun, Habibie tetap percaya bahwa jika dirinya dan Ainun berjodoh insyaallah akan dipersatukan. Habibie dan Ainun juga mandiri saat mengarungi kehidupan rumah tangganya di Jerman. Habibie bekerja tidak dihanya satu tempat sedangkan Ainun menjahit sendiri pakaian yang akan dipakai anaknya kelak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya tanpa adanya bantuan dari pembantu.



5.      Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self actualization needs)

merupakan kebutuhan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri, untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya. Kreativitas Habibie dapat terlihat dari kemampuan beliau merancang kereta api dan pesawat terbang. Beliau memenangkan sebuah tender saat melakukan penelitian penyebab jatuhnya pesawat tempur Starfighter F-104 G. Menurut beliau, penyebabnya karena akumulasi kerusakan yang terjadi di sayap F-204 G. Untuk mengatasi hal tersebut, beliau menggunakan metode perhitungan kecepatan suatu retakan berjalan pada bahan yang elastoplastik. Disamping itu, beliau juga melakukan riset tentang pemanfaatan serat karbon sebagai cikal bakal pembuatan sirip pesawat “Airbus”.

Meskipun keadaan perekonomiannya di Jerman sulit, beliau tetap bisa mencari penyelesaian dengan melamar kerja di berbagai tempat. Habibie yakin bahwa dengan kemampuannya selama ini, beliau dapat meningkatkan keadaan perekonomian keluarganya. Banyak prestasi dan penghargaan yang diraih oleh Habibie, baik dari dalam maupun luar negeri. Habibie mendapat penghargaan medali emas Edward Warner Award karena telah berjasa di dunia penerbangan pada tanggal 7 Desember 1994 pukul 10.00 pagi di pusat ICCAO di Montreal, Kanada.

Selain itu, Habibie bersama Ainun proaktif ikut dalam kabinet pembangunan ke III. Ainun juga ikut berkarya dalam organisasi sosial. Habibie juga merintis sekaligus menjadi ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se- Indonesia,  IIFTIHAR (Internasional Islamic Forum for Sience, Technology, and Human Resource Development), dan The Habibie Center.. Habibie juga berhasil membuat pesawat terbang pertama kali di Indonesia Airshow 1996 dengan pemunculan dan terbang perdana pesawat N-250 Gatotkoco. Dalam dunia politik, Habibie ikut dalam kabinet pembangunan VII,  wakil presiden, hingga menjadi presiden.



Rogers

A.     Struktur Kepribadian

1.    Organism

a.    Makhluk hidup: organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologiknya. Hal demikian juga dimiliki oleh Habibie dan Ainun, keduanya adalah makhluk hidup yang memiliki kondisi fisiologis dan psikologis yang cukup baik.

b.    Realitas subyektif: Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya sendiri. Dalam segala hal Habibie selalu mengambil keputusan sesuai dengan apa yang dialami dan difikirkan sendiri tanpa memperdulikan pendapat dari orang lain.

c.    Holisme: Organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Seperti yang terjadi pada keluarga Habibie, setiap kali Habibie mengambil suatu keputusan maka seluruh keluarga akan mengikuti beliau. Saat Habibie memutuskan untuk kembali Indonesia, maka istri dan anaknya ikut kembali ke Indonesia, dan anak-anaknya harus pindah sekolah.



2.    Medan Fenomena

    adalah “frame of reference” dari individu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri. Medan fenomena ini dapat dilihat dalam diri Habibie  yaitu ketika Beliau akan mendekati Ainun. Orang-orang disekitar Habibie banyak yang meremehkan Habibie, namun Beliau tetap teguh pada pendiriannya.

     Pendapat orang lain:

   “Rudi, kamu mau jadikan Ainun pacarmu? kamu harus tahu diri! kamu sadar Ainun itu siapa? saingannmu anggota keluarga terkemuka di Indonesia, berpendidikan lebih tinggi dari kamu, kaya, ganteng, dan lebih besar dari kamu! kamu siapa? sepeda motor saja kamu tidak miliki. paling banter naik becak, harus realistis! ajangan berkhayal dan mimpi.”



     Pendapat diri sendiri (Habibie)

    “Terimakasih atas pandangan dan pendapat kalian. saya percaya bahwa takdir seseorang ditentukan oleh Allah SWT. Jikalau memang Ainun ditakdirikan untuk saya, dan saya untuk ainun, maka apapun kalian katakan, Ainun insyaallah akan menjadi istri saya. dan saya menjadi suami Ainun. Lihat saja nanti!”







3.    Self

merupakan konsep menyeluruh yang ajeg, tersusun dari persepsi mengenai subjek dan dengan orang lain mengenai berbagai aspek kehidupan dan nilai-nilai yang terlibat pada persepsi itu. Konsep self yang ada pada Ainun terlihat pada kutipan beliau,

“karena kita dua-dua nya sama kecil dan sama-sama paling muda di kelas masing-masing, kita selalu dijodoh-jodohkan oleh para guru.”

Sedangkan konsep self yang ada pada Habibie terlihat pada kutipan beliau,

“… karena keunggulannya dalam ilmu pasti dan demikian pula halnya dengan saya”

Dari kedua hal tersebut dapat diketahui bahwa Habibie merasa bahwa beliau dan Ainun sama-sama pintar dalam bidang ilmu eksata, sehingga apabila menjadi suami istri, keturunan mereka menjadi pintar.



B.       Dinamika Kepribadian

1.    Penerimaan Positif

     Merupakan kebutuhan agar diterima baik, dicintai dan diakui lingkungan. Dengan kepandaian yang dimiliki oleh Habibie, maka secara tidak langsung Habibie bisa diterima dan dicintai oleh lingkungan dan orang-orang disekitarnya.



2.    Konsistensi dan Saling Suai Self

    Organisme berfungsi untuk memelihara konsistensi (keadaan tanpa konflik) dari persepsi diri, dan kongruen (saling suai) antara persepsi self dengan pengalaman.

     Keadaan saling suai digambarkan dalam diri Habibie dengan penerimaan dirinya tidak mencalonkan diri kembali menjadi presiden dan memilih mendirikan The Habibie center. Demikian kata beliau:

    “Saya tidak menyadari, bahwa pembicaraan singkat di saat makan siang tersebut mempunyai arti bagi saya dalam menentukan apa yang harus saya lakukan bagi bangsa saya dalam proses demokratisasi. Memang terispiasi oleh presiden Charter Center. Oleh karena itulah begitu saya memutuskam utntuk tidak mau dicalonkan lagi sebagi presiden, maka saya berketetapan hati untuk mendirikan suatu lembaga non-profit dan non-politic, yang berkhidmad dalam mendorong dan bersama kekuatan bangsa lain mengawal proses demokratisasi bangsa, dan lembaga itu kemudian saya namakan The Habibie center”.

Selasa, 25 September 2012




Ø  Struktur Kepribadian Tokoh Berdasarkan Psikoanalisis

1.      Habibie

-          Id

·         Ceplas – ceplos, hal 2-3

“Saya tidak menyangka beretemu dengan Ainun dan tampaknya demikian pula Ainun. Reaksi spontan saya : Ainun, kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!”

“Terkenang tujuh tahun yang lalu ketika Ainun sedang duduk bersama beberapa wanita dari kelasnya menikmati sarapan pagi bersama, tiba-tiba saya dattang mengucapkan kepada Ainun: Mengapa kamu begitu hitam dan gemuk?”

·         Tidak sabaran, hal 2 paragraf 2

“Hampir setengah jam saya menunggu, Fanny tidak kunjung datang. Dalam keadaan tidak menentu itu, saya keluar dari mobil dan mengetuk pintu sambil berucap Hallo, Hallo, Hallo. Namun tidak ada yang bereaksi. Saya lalu memberanikan diri masuk ke dalam rumah.”

·         Romantis, hal 20 paragraf 3

“Saya menjawab : Senyuman manis dan pandangan matamu yang selalu memukau dan merindu”



-          Ego

·         Sederhana, hal 11, paragraf 6

“Pakaian sehari-hari saya celana biru, jeans, kemeja biasa dengan penampilan tidak menyolok.”

Hal 17, paragraf 2

“Di Aachen saya tinggal di Jalan Preubweg no 123, sebuah apartemen kecil terdiri dari kamar tidur, kamar tamu, dapur kecil dan kamar mandi..”

Hal 20

“Saya kembali larut malam dan kadang-kadang berjalan kaki karena tidak ada bus lagi atau harus menghemat. Untuk mepersingkat waktu, saya berjalan melalui kuburan. Jikalau hujan dan dingin saya berjalan dengan payung, mantel dan sepatu yang diberi alas kerts sebagai alas kaki yang dapat membantu isolasi.”

·         Pekerja keras, hal 17 paragraf 2

“Saya bekerja sebagai assistennya selain sebagai peneliti.”

Hal 24, paragraf 1

“Dalam tiga bulan pertama saya bekerja di Talbot, saya hampir tidak ada waktu untuk tidur. Banyak pengetahuan dan pandangan baru yang saya harus mengerti dan perhatikan.”

Hal 26, paragraf 3

“Bersama satu Tim Insinyur perusahaan Talbot yang diperbantukan pada saya, kami merekayasa, membuat prototipe Gerbong Ruang Luas yang dites di Balai Percobaan dan Penelitian Perusahaan KA Jerman Deutsche Bundesbahn di kota Miden.”

Hal 33, paragraf 1

“Dengan semangat, motivasi dan diilhami oleh Ainun, produktivitas kerja saya meningkat dan semua berjalan lancar.”

·         Mandiri, hal 14 paragraf 4

“Perubahan yang sangat berdampak adalah pertama : ketika saya berusia 6 tahun harus pindah ke kota lain untuk masuk sekolah yang lebih unggul. Kedua; pada tahun 1950 dalam usia 14 tahun setelah 40 hari Ayah kandung saya Alwi Abdul Djalil Habibie meninggal dunia, saya harus berlayar dengan kapal laut seorang diri dari Makassar ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Ketiga, hanya 5 tahun kemudian dengan usia 19 tahun ditugaskan seorang diri pula naik pesawat terbang ke Jerman untuk meneruskan sekolah ke pendidikan tinggi.”

·         Tegas, hal 150, paragraf 4-5

“Saya tidak membenarkan untuk memulai mencari titik-titik antagonis yang berlawanan. Jika kita memulai dengan mendiskusikan perbedaan tersebut, maka umat islam tidak pernah akan bersatu. Selalu akan ribut.” “Oleh karena itu , saya berani mengambil kesimpulan untuk memimpin dan selalu berpegang pada filsafat dasar tersebut.”

-          Superego

·         Cerdas dan agamis (pandai memilih kata), hal 6 paragraf 3

“Terimakasih atas pandangan dan pendapat kalian. Saya percaya bahwa takdir seseorang ditentukan oleh Allah SWT. Jikalau memang Ainun ditakdirkan untuk saya dan saya untuk Ainun, maka apapun kalian katakan, Ainun Insya Allah akan menjadi isteri saya dan saya menjadi suami Ainun. Lihat saja nanti!”

·         Religius, hal 5 dan 6, paragraf 4

“Sebelum malam takbiran itu diakhiri, saya sempat mengajak Ainun untuk bertemu besok setelah sholat Maghrib”.

Hal 10-11

“Kami berkeyakinan bahwa untuk cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi kami, Allah SWT selalu mendampingi kami dalam perjalanan membangun keluarga sakinah.”

Hal 283, paragraf 3

“Untung ada Tuhan. Untung saya percaya dan yakin ada Allah SWT. Untung saya mampu memanjatkan doa dengan bahasa getaran nurani penuh dengan keyakinan akan didengar Allah SWT. Untung ada agama. Untung saya dan Ainun sangat religius. Kalau tidak mungkin susah kami atasi ini semua.”

Hal 290, paragraf 1

“Saya yakin Allah SWT hanya mengerti bahasa nurani yang tulus.”

Hal 292, paragraf 2

“Hari Rabu tanggal 19 Mei 2010 pukul 00.15, ketika saya sedang melaksanakan sholat tahajud untuk Ainun, dokter dari ICCU menelpon menyampaikan bahwa Ainun segera harus dioperasi untuk ke- 12 kalinya. Saya berjalan cepat ke ICCU dan terus menerus memanjatkan doa untuk Ainun.”

·         Berbakti pada orang tua, hal 11 paragraf 1

“Karena Ayah saya sudah meninggal pada tahun 1950, ketika beliau sedang memimpin shalat isya di atas sajadah, tiba-tiba mendapat serangan jantung, 12 tahun yang lalu, maka saya harus nyekar ke makamnya di Makassar.”

Hal 14, paragraf 1

“Setelah acara pernikahan selesai, kami menyekar ke makam ayah kandung saya di Makassar.”



2.      Ainun

-          Id

·         Perhatian, hal 23, paragraf 2

“Yang diperhatikan Ainun adalah semua yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan kesehatan saya.”

Hal  26, paragraf 1

“Saya belajar tidak mengganggu konsentrasinya dengan persoalan-persoalan rumah.”



-          Ego

·         Pandai, hal 3, paragraf 2

“Sehabis SMA kami jalan sendiri-sendiri. Dia ke Jerman belajar menjadi insinyur, saya ke jakarta masuk Fakultas Kedokteran UI.”

“Tahun 1961 saya lulus, lalu bekerja di bagian Kedokteran Anak FKUI.”

Hal 4, paragraf 4

“Perilaku saya pada waktu itu, mungkin disebabkan karena Ainun yang adik kelas saya mendapat perhatian khusus dari guru ilmu pasti kamu Bapak Gow Keh Hong, karena keunggulannya dalam bidang ilmu pasti dan demikian pula halnya dengan saya.”

·         Disiplin dan Mandiri, hal 26, paragraf 1

“Saya belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik, mengatur menu murah tapi sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, melakukan permainan edukatif dengan anak, menjaga suami, membuat suasana rumah yang nyaman.”

·         Selalu berusaha untuk hidup hemat, hal 19, paragraf 1

“Untuk menghemat, sejauh mungkin semuanya sikerjakan sendiri: Mulailah saya belajar sendiri menjahit...”



-          Superego

·         Religius

Hal 177, paragraf 2

Mengenal Ainun yang sangat religius dan tiap hari membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, saya yakin bibirnya bergetar karena memanjatkan doa ketika mendengar ucapan saya itu. Tiap saat kami berdua selalu memanjatkan doa sesuai irama keberadaan kami.




Ø  Dinamika Tokoh Berdasarkan Psikoanalisis

1.      Saat Ainun mengalami masa-masa sulit untuk memenuhi kebutuhan finansial di Jerman, dia menggunakan salah satu defence mechanism pemindahan/reaksi kompromi Freud yakni kompensasi. Hal tersebut dapat dilihat dalam buku yang ditulis Ainun seperti berikut :“Saya belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik, mengatur menu murah tapi sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, melakukan permainan edukatif dengan anak, menjaga suami, membuat suasana rumah yang nyaman; pendeknya semuanya harus dilakukan agar suami dapat memusatkan perhatiannya pada tugas-tugasnya. saya belajar tidak mengganggu konsentrasinya dengan persoalan-persoalan dirumah.”

2.      Habibie dilecehkan beberapa temannya saat beliau mulai mendekati Ainun. Bahkan setelah menikah pun, banyak teman sejawat Ainun (dokter) yang memandang Habibie dengan sebelah mata. Pada saat mengalami kejadian tersebut, Habibie menggunakan salah satu defense mechanism intelektualisasi Freud yakni sweet-lemon rationalization. Dapat dilihat dari perkataan Habibie seperti berikut “Terimakasih atas pandangan dan pendapat kalian. Saya percaya bahwa takdir seseorang ditentukan oleh Allah SWT. Jikalau memang Ainun ditakdirkan untuk saya dan saya untuk ainun, maka apapun yang kalian katakan, Ainun insya Allah akan menjadi istri saya dan saya menjadi suami Ainun. Lihat saja nanti!”

3.      Saat detik-detik reformasi pembangunan, ada pasukan yang tidak dikenal disekitar kediaman Pak Habibie. Hal tersebut membuat Pak Habibie dan keluarganya mulai kehilangan ketentraman. Dalam menghadapi hal tersebut, Pak habibie menggunakan salah satu defense mechanism intelektualisasi Freud yakni sour-grape rationalization. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan Pak Habibie dalam bukunya “Berulang kembali pertanyaan pada diri saya lagi, mengapa untuk kepentingan keamanan, seluruh keluarga saya harus berkumpul dalam satu tempat? Apakah tidak lebih aman jikalau keluarga saya masih tetap ditempatnya masing-masing? Saya mulai berfantasi, saya teringat nasib keluarga Tsar Romanov dari Rusia yang semuanya dibunuh dalam satu tempat dalam revolusi kaum Bolshevik”.

4.      Habibie melihat fenomena bahwa semangat patriotisme, nasionalisme anak-anak muda di Indonesia masih menyala-nyala dan bekobar-kobar. Sedangkan Habibie pada saat itu justru sedang belajar di luar negeri. Selain itu, dia tidak puas dengan seminar yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Indonesianya di Jerman yang tidak fokus dan tidak akan mengakselerasi tindakan nyata bagi pengabdian mereka kelak jika kembali ke tanah air. Untuk menghadapi keadaan tersebut, beliau menggunakan salah satu defence mechanism Freud yakni pemindahan/reaksi kompromi, yakni subtitusi. Habibie mengadakan seminar pembangunan yang sesuai dengan gagasan beliau agar lebih terkooordinasi dan jadi panduan kelak pada pengabdian dan sumbangan mereka setelah kembali ketanah air.



Ø  Perkembangan Psikoseksual Tokoh Berdasarkan Psikoanalisis

1.      Tahap Laten

Habibi tidak mengekspresikan hasrat seksualnya secara langsung, energi seksualnya ia salurkan pada aktivitas-aktivitas seperti pergi ke sekolah dan menjalin hubungan pertemanan. Di sekolah Habibi mengembangkan kebiasaan belajar dan bekerja sama dengan teman sebaya.   

2.      Tahap Genital

-          Perkawinan

Malam takbiran adalah malam yang tidak pernah beliau lupakan, karena pada malam itu matanya beradu pandang dengan mata Ainun yang teduh dan menenangkan. Begitu terpesonanya Beliau hingga selang beberapa hari setelah pertemuan pertama itu Pak Habibi mengutarakan maksud hati untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Ainun. Pada bulan ketiga hubngan mereka, atas persetujuan keluarga besar Besari dan Habibi menikahlah Habibi dengan Ainun.

-          Keluarga

Rumah tangga Habibie dan Ainun sangat bahagia, harmonis, dan saling menyayangi. Habibie sangat mencintai Ainun begitu pula sebaliknya. Ainun selalu mendukung apapun yang akan dilakukan oleh Habibie. Ainun selalu setuju dengan semua keputusan yang akan diambil oleh Habibie. Mereka mempunyai 2 anak laki-laki yang bernama Ilham dan Thareq. Pada awal-awal Habibie dan Ainun pindah ke Jerman mereka tinggal di apartemen di pinggir kota yang sangat kecil, dengan 1 kamar tidur, kamar tamu, dapur kecil dan kamar mandi. Namun Habibie tidak lantas puas dengan keadaan keluarganya, maka mereka memutuskan untuk pindah ke apartemen yang berada di pinggiran kota dengan ukuran yang lebih besar. Habibie terus berusaha untuk memperbaiki keadaan finansial keluarganya, dia sebagai asisten pada institut konstruksi ringan di Universitas dan juga menyambi sebagai ahli kontruksi pada pabrik kereta api. karir Habibie terus menanjak dan keadaan finansial keluarganya semakin membaik. Dia juga bisa membangun sebuah rumah. Setelah pindah ke Indonesia karir Habibie juga terus meningkat dan menjadi salah satu orang penting yang ada di Indonesia. Ainun begitu perhatian terhadap Habibie, begitupula dengan Habibie. Saat Ainun sakitpun Habibie terus berada disamping Ainun, dan mengusahakan pengobatan yang terbaik buat Ainun.

-          Aktif dalam kegiatan organisasi

Ia memprakarsai sebuah seminar yang bertujuan membakar jiwa patriotisme dan meningkatkan rasa pengabdian pada Tanah air.

-          Menyiapkan karir

Setelah menikah dengan Ainun, Habibi memboyong Ainun ke jerman. Mereka berdua mulai kehidupan dari keluarga sederhana. Habibi hanya bekerja di Talbot dan menjadi asisten Dosen Teknik di Fakultasnya sembari menyelesaikan S2. Ainun sendiri memilih untuk menjadi Ibu rumah tangga yang baik dengan menyiapkan segala keperluan suaminya dan mengerjakan pekerjaan rumah.  

-          Berorientasi sosial

Ainun tergabung dalam Balai Bina Kerta Raharja dimana beliau beserta kelompoknya terjun langsung membantu orang lain yang membutuhkan. Tugas utamanya adalah menampung tunawisma dan tunakarya, kemudian mengadakan pelatihan agar mereka siap ditransmigrasikan ke wilayah-wilayah baru di seluruh pelosok nusantara.

-          Realistik

Habibie berfikiran realistik saat dia tidak puas dengan seminar yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Indonesianya di Jerman yang tidak fokus dan tidak akan mengakselerasi tindakan nyata bagi pengabdian mereka kelak jika kembali ke tanah airmengadakan seminar pembangunan yang sesuai dengan gagasan beliau agar lebih terkooordinasi dan jadi panduan kelak pada pengabdian dan sumbangan mereka setelah kembali ketanah air

-          Altrusime

Meskipun AInun sakit keras, ia masih menyempatkan diri menulis email kepada beberapa pengurus lembaga yang dipimpinnya. Beliau menuliskan saran-saran perbaikan lembaganya, mulai dari manajer, pimpinan, bendahara, dan pembuatan gedung bogor.
A call-to-action text Contact us