:::: MENU ::::
  • Filosofi Tea

  • Diri Baru di Tahun yang baru (Sebuah refleksi akhir tahun)

  • Harga Diri, depresi hingga akhiri hidup dengan bunuh diri

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2016

Tempat dasar adalah awal,
di mana tubuh dipenuhi harap dan beban,
beranjak terbang, tanpa sayap.

Satu tingkat dari dasar,
lihatlah ketinggian ini!
Jatuh pun takkan retak tulang.
Beranjak terbang, tanpa sayap.

Beberapa tingkat dari dasar,
lihatlah lagi!
Cukup untuk meremukan kaki.
Kembali terbang, tanpa sayap.

Puncak, di mana kita lebih tinggi dari pohon-pohon itu.
Batas laut dan langit tampak semu.
Perahu yang mengudara.
Terbang, tanpa sayap.

Satu tingkat di bawah puncak,
momen-momen terasa singkat.
Perasaan tetap terkondisikan,
mendarat, tanpa parasut.

Beberapa tingkat di bawah puncak,
rindu mulai menjalar
selayak rumput liar,
keinginan tuk berputar balik meninggi.
Terus mendarat, tanpa parasut.

Kembali pada dasar,
rindu benar-benar berkuasa.
Digenggam diri olehnya,
lalu kembali menjadi manusia lagi,
tapi perasaan itu masih nyata,
menamakannya dengan kenangan. 'Hanya masalah waktu,
tentang keberadaannya,
atau dengan pelan terlupakan.' -ihsanjarot .
.
.
#kaekak #puisi #lkl #syair #bukitmenoreh #likesforlikes #wisatakabut #kulonprogo #bukitmenorehkulonprogo #kabut #puisilover #maknakehidupan #like4like #filosofikehidupan #baitpuisi #ciptapuisi #vscogram #reading #balada #epik #wisatamenoreh
Pegunungan Menoreh, Kulon Progo

Jumat, 02 Desember 2016



Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat siang, salah sejahtera bagi kita semuanya.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadhirat tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-nya-lah, kita semua dapat hadir di sini untuk bersama-sama melaksanakan gathering pada hari ini.

Suatu kehormatan dan kebanggaan kami anggota Komunitas Boko dan para pendamping diundang oleh Yayasan CIQAL dalam kegiatan ini. Terimakasih atas kehadiran perwakilan dari APH, Pemerintah dan Dewan Masyarakat Umum penyandang Disabilitas serta ibu / bapak undangan yang lainnya pada acara Gathering ini. Di tengah berbagai kesibukan semuanya, betapa besar perhatian dan kepedulian kalian atas kehidupan para penyandang disabilitas termasuk masalah kekerasan yang mereka alami.

Pada kesempatan ini perkenankan pula saya menyampaikan terimakasih kepada peserta Gathering yang berjumlah 200 peserta yang mewakili semua lapisan masyarakat.
Hadirin yang saya hormati,

Menyadari betapa pentingnya arti kehidupan ini, betapa pentingnya kelengkapan fisik dan mental yang kita punya, dan juga betapa sulitnya menjalani kehidupan bagi si penyandang disabilitas. Di dunia ini, banyak sekali orang yang mengalami kecacatan. Baik merupakan cacat fisik maupun cacat mental. Ada yang tidak bisa mendengar (Tuna Rungu), tidak bisa melihat (Tuna Netra), ataupun yang tidak bisa berbicara (Tuna Wicara), dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya paparkan satu persatu. Jadi, seharusnya kita perlu bersyukur kepada-Nya karena kita masih diberi kelengkapan, baik fisik maupun mental. Karena bisa saja terjadi sesuatu kepada kita yang menyebabkan kita kehilangan kaki atau tangan kita (Tuna Daksa).

Hidup ini tidak bisa ditebak, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang senang kadang sedih. Kadang lengkap kadang pula kurang. Maka dari itu kita tidak boleh meremehkan apalagi menjauhi mereka yang menyandang cacat. Kita harus berusaha berempati kepada mereka. Coba kita bayangkan. Bagaimana kalau anak kita nanti mengalami keterbelakangan mental. Atau bayangkan saja jika kita sendiri yang mengalami kecacatan.

Bagaimana kalau terus dihina dan menyebabkan begitu terpukul. Begitu pula dengan penyandang cacat dia pasti akan sedih bila terus dihina dan dijauhi. Saya terkadang berfikir dengan mereka yang selalu memandang sebelah mata si penyandang cacat. Apakah mereka semua tidak puas melihat kekurangan para penyandang cacat? Atau mungkin mata hatinya sudah tertutup. Mereka yang menghina sebetulnya tidak lebih baik dari mereka yang dihina.

Saya lebih miris ketika mendengar kekerasan terjadi pada paradifabel. Jangan kan orang lain, masih sering kita jumpai pihak keluarga tidak merawat anggota keluarganya yang difabel secara manusiawi. Bahkan mereka cenderung malu dan menyembunyikan keluarga mereka yang menyandang difabel tersebut. Rasa aman, nyaman, perhatian dan kasih sayang yang seharusnya dinikmati semua anggota keluarga tidak diperoleh difabel. Namun perlakuan yang tidak manusiawi terhadap difabel dalam keluarga masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar di masyarakat. Buktinya sampai saat ini belum ada keluarga yang memperlakukan difabel semena-mena dilaporkan ke pihak yang berwajib.

Padahal kekerasan yang dialami difabel sudah memenuhi unsur kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).Undang-undang No. 24/ 2003 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga  Pasal 1 (2) yang berbunyi “kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.
Bukankah membiarkan difabel dalam kondisi tanpa perawatan yang layak merupakan sebuah penelantaran yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap difabel? Bukankah kekerasan yang dialami oleh difabel merupakan sebuah bentuk pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan karena difabel juga manusia?

Di lain sisi, sementara para difabel tengah bergulat melawan stigma diri dan stigma sosial, para pelaku kekerasan seksual mengambil kesempatan dari ketidakberdayaan mereka.Pandangan masyarakat terhadap perempuan difabel sebagai orang yang sakit, tidak memiliki harapan, tidak cakap, gila, aseksual dan tidak berdaya menjadi ruang bagi para pelaku kekerasan yang melihat difabel sebagai korban yang mudah diperdaya.

Perempuan penyandang disabilitas tuna rungu dan tuna grahita paling banyak menjadi korban kekerasan seksual  Perempuan tuna rungu tidak bisa berteriak dan sangat ketakutan ketika diancam untuk diam oleh pelaku. Sedangkan perempuan tuna grahita secara mental dan intelektual sulit membedakan antara eksploitasi dan kekerasan seksual dengan cinta. Pelaku pun merasa aman karena biasanya korban sulit untuk diajak berkomunikasi dengan baik. Keluarga korban juga masih sedikit yang paham tentang hukum sehingga seringkali kekerasan seksual yang terjadi pada para difabel diabaikan. Berapa banyak pelaporan tindak kejahatan yang dialami oleh difabel? Sedikit sekali bukan, bahkan hampir tidak ada.

Difabilitas menjadi kendala utama bagi seorang difabel. Dalam kasus difabel yang menjadi korban kekerasan tidak bisa mendapatkan keadilan karena sulitnya mendapatkan keterangan yang konsisten dari korban. Padahal korban merupakan salah satu saksi kunci pengungkapan kasus kekerasan seksual yang biasanya dilakukan di tempat yang sepi.

Kondisi korban dengan difabilitas mental seringkali membuat kasus yang dihadapinya berhenti begitu saja karena sulitnya mendapatkan keterangan dari korban. Hal ini merupakan sebuah bentuk diskriminasi yang dilakukan oleh kepolisian karena mereka tidak menyediakan pendamping yang paham tentang difabilitas untuk mendampingi korban. Padahal pendampingan khusus dari ahli dapat membantu polisi untuk mengungkap kesaksian korban

Meskipun beberapa undang-undang telah mengakomodir hak-hak difabel namun masih ada beberapa undang-undang dan peraturan yang masih diskriminatif sehingga memperlemah posisi difabel untuk mendapatkan keadilan. Belum ada pula undang undang terkait kekerasan seksual terhadap para difabel. Saya dan kita semuanya tentu mendukung sekali penyegeraan pegesyahan RUU Pencegahan Kekerasan seksual. Kita harus segera mengakhiri segala bentuk kekerasan seksual kepada siapa pun, dan di manapun.

Kita hentikan stigma terhadap para korban yang hanya membuat korban semakin menjadi korban. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi lagi. Membungkam korban, mengubur peristiwa kekerasan seksual, sama saja dengan membiarkan semakin banyak korban jatuh dan semakin banyak pelaku. Kekerasan seksual membunuh martabat kemanusiaan, menciptakan trauma dan masa depan yang gelap tidak hanya bagi korban dan keluarganya, tapi sesungguhnya bagi pelaku dan keluarga, serta lingkungannya.

Hari ini di berbagai belahan dunia, masyarakat internasional tengah bersama-sama merayakan Hari Disabilitas Internasional. Semoga ini menggugah kesadaran dunia, kesadaran kita semuanya akan pentingnya pemenuhan perlindungan dan penegakan hak penyandang disabilitas di berbagai sektor kehidupan. Semoga para penyandang disabilitas senantiasa bersemangat untuk lebih maju.

Dan kita sebagai manusia normal selalu memberikan dorongan, motivasi, dan kasih sayang kita kepada mereka. Pemerintah juga perlu kiranya segera membuat aksi nyata untuk membantu para difabel. Kita semua menyadari apa yang dilakukan warga masyarakat haruslah juga diimbangi dan diperkuat dengan kehadiran negara, salah satunya melalui hadirnya undang-undang. Harapannya, dengan semua itu, sayap yang patah bisa berangsur pulih, dan jagalah terus sayap tersebut agar ia terus bersinar. Jadi, sekarang Cacat Bukan Lagi Halangan. Cacat juga bukan alasan untuk dibedakan dan direndahkan.

Sekian pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan di hadirin sekalian.

Wassalammualaikum warahmatullohi wabarokatuh.

Terima kasih.

Jumat, 07 November 2014



Ingin skali aku pertanyakan padamu Tuhan...
Engkau inginkan aku seperti apa dg masalah y engkau timpakan padaku?
Hendak kau jadikan kuatkah aku?
Tapi mengapa aku justru merasa sangat sangat amat rapuh dan tak menentu


Ya Rahman...
Engkau selipkan fitrahMu dan engkau tiadakan kembali fitrah itu dg kuasaMu
Lalu masih pantaskah aku tanyakan mengapa
padahal Engkaulah y Maha Berkehendak dan Engkaulah pemilikku


tapi Ya Rabbi...
Hati ini berdebat hebat, baku hantam karena banyak rasa
Maka aku pinta lembutkanlah hati ini
Jangan simpan marah y tak berkesudahan
Jangan jadikan dendam dan ingn berbalas
Jangan pula Engkau hadirkan benci y menghitamkan kebaikannya


Engkau Rabbku Yang Agung
Maha tau apa-apa y pernah terjadi
Slalu mendengar pintaku dan harap mimpiku


Ya Al-Ghofur..
Ampuni kami y sangat bersalah
dan kembalikanlah kami pada jalan kebenaranmu
Busungkanlah dada ini untuk menerima
dan lebarkanlah ruang maaf dalam hati ini
Bahagikanlah diri saat yang lainpun bahagia

Amin


*Post on Notes Facebook

Senin, 30 Juni 2014



Ya Allah..,
Seandainya telah Engkau catatkan dia akan menjadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami Agar kemesraan itu abadi
...

Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah.., Seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan.

Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengerti..,
Berikanlah aku kekuatan melontar bayangannya jauh ke dada langit
 Hilang bersama senja nan merah
Agar aku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Amin


*Post on Notes Facebook

Rabu, 14 Mei 2014

Senandung hati dalam Do'a padamu Rabbi
Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
merindu bertemu dalam ketaatan
mendamba syahdu lantunan merdu ayat-ayatMu di bayt kami
berharap kebersamaan yang tiada getar ketakutan menyertainya
yang setiap gerak kami Engkau hitung sebagai amalan

Ya Rabbi. . .
ku nanti ia dalam sujud panjang ku
ku pinta ia dengan deru haru dalam do'a ku

Ya Rabbi. . .
sebelum tiba waktu kami,
jernihkan hati yang seringkali resah karena ketidakpastian
kami merancang esok dengan cita dan harap kami
dan Engkau merancang esok dengan cintaMu yang haqiqi
bila dikemudian hari asa ini tak senada dengan jalanMu
buatlah kami senantiasa tersenyum dan berpasrah diri hanya padaMu


Senin, 15 April 2013




Kisah film Bollywood hasil besutan sutradara Aditya Chopra pada tahun 2008 ini sebagaimana kebanyakan film Bollywood lain, sudah tentu tidak jauh-jauh dari tema percintaan. Namun kali ini penyajiannya cukup unik lantaran menceritakan usaha seorang suami mencari cinta dari istrinya sendiri dengan menjadi orang lain.


Kisahnya dimulai dengan dihadirkannya tokoh Surinder Sahni (Shahrukh Khan) yang akrab dipanggil Suri. Suri adalah seorang pegawai kantor Punjab Power yang sederhana, pemalu dan baik hati. Suatu ketika dia menghadiri acara pernikahan anak dosennya sewaktu kuliahnya (MK Raina), Taani Gupta (Anushka Sharma). Namun, sewaktu acara persiapan pernikahannya, dikabarkan bahwa calon pengantin pihak prianya mengalami kecelakaan mobil dan dikabarkan telah meninggal.

Melihat keadaan itu, suasana jadi berubah. Ayah Taani mengalami serangan jantung, dan dokter pun memvonisnya bahwa nyawanya sudah tidak bisa diusahakan lagi untuk hidup. Ayah Taani sadar akan ajal yang sebentar lagi menjemputnya itu, oleh karena itu dia akan merasa tenang apabila kepergiannya tidak meninggalkan anak satu-satunya Taani sendirian. Oleh karena itu, di rumah sakit dia meminta kepada Suri dan Taani agar mau menjadi suami istri.

Mendengar permintaannya itu, keduanya tidak bisa menolak. Tak lama kemudian, ayah Taani meninggal. Suri dan Taani pun menikah walaupun usia mereka cukup berbeda jauh. Sebenarnya Suri sudah jatuh cinta kepada Taani sewaktu pandangan pertama. Yakni saat Taani terlihat sangat riang mempersiapkan pesta pernikahannya. Goresan takdir Tuhan telah membuatnya hidup bersama Taani. Namun Taani yang baru ditinggal ayah dan calon suaminya yang sebelumnya itu, sebenarnya mengalami pukulan hati berat dan merasa cintanya tidak ada lagi untuk siapapun.

 Setelah pernikahan dadakan, Suri membawa Taani ke rumah leluhurnya di Amritsar. Suri membiarkan Taani memiliki kamar tidur untuk dirinya sendiri. Lagi pula, Taani mengatakan kepadanya bahwa sementara ia akan mencoba untuk menjadi istri yang baik dan dengan demikian menghormati perannya sebagai istri. Suri, sebenarnya terganggu dengan kehampaan hati dari Taani, namun di lain sisi ia bersyukur atas kesediaan Taani memenuhi kewajiban seorang istri untuk memasakkan suami dan meminta izin pada suami tatkala akan pergi.

Suri sangat penyabar dan memanjakan Taani. Ia tak pernah sekalipun marah dan komplen atas perlakukan istrinya. Termasuk mengenai perjalanan malam rutin Taani ke bioskop untuk melihat film, lagu dan tarian yang menarik tentang cinta. Taani terobsesi untuk menari. Dia segera meminta izin Suri, agar ia diperbolehkan mengambil kelas dansa  Jodi. Suri yang merasa rendah diri dan sukar mengungkapkan rasa cintanya kepada Taani, dengan mudah memberikan izin untuk mengikuti kelas menari.


Perkawinan merekan berjalan hambar dan tidak mengecap kebahagiaan sebagaimana pernikahan lainnya. Untuk menyatakan cintanya kepada Taani, akhirnya Suri meminta nasihat kepada sahabat karibnya, Bobby Khosla (Vinay Pathak). Lantaran Taani mengagumi sosok pria maskulin, sehingga Bobby mengubah sosok Suri sebagai seorang pria maskulin yang bernama Raj Kapoornama yang diperoleh dari film yang dikagumi Taani.


Sosok baru yang sangat berbeda dengan sosok aslinya, Suri dengan nama Raj itu pun bergabung dengan klub tari yang diikuti Taani. Ternyata Taani tidak mengenali Raj adalah suaminya sendiri. Raj pun berhasil mendekati Taani sehingga mereka pun menjadi dekat, suatu hal yang tidak berhasil dilakukan Suri sebelumnya. Raj menjadi mitra Taani dalam kompetisi tari “dancing jody”.


Dengan keikutsertaan mereka dalam kompetisi tari, Raj dan Taani bertemu hamper setiap hari untuk melakukan latihan. Selama festival Raksha Bandhan, Suri merasa senang ketika Taani tidak mengikat Rakhi (benang suci) di pergelangan tangan "Raj", yang mana ini bearti Taani menganggap Raj hanya sebagai saudara. Sebelum kompetisi tersebut berlangsung, Raj mengutarakan cintanya kepada Taani.



Terkejut atas pernyataan cinta Raj itu, Taani terombang-ambing antara kesetiaannya kepada Suri walau tidak bahagia dengan sosok Raj yang merupakan pria ideal baginya. Suri juga menghadapi dilema: penderitaan Taani sebagai istrinya berbeda dengan kegembiraan ego yang telah dibuat, Raj.  Taani akhirnya kabur untuk menemui Raj dan menceritakan kesulitannya, berharap ia akan membantunya.


Raj menawarkan untuk kawin lari dengan Taani, dan Taanipun meyetujui sambil menangis. Mereka menetapkan tanggal untuk kawin lari mereka ke malam berikutnya, malam kompetisi. Kemudian malam itu, Suri memberitahu Bobby bahwa ia akan mengakhiri permainan dengan caranya sendiri, yaitu pengorbanan cintanya. Ia kemudian mencoba untuk memenangkan cinta Taani sebagai Suri, suatu tindakan yang hanya mengasingkan dirinya lebih lanjut. 

Pada hari kompetisi, Suri mengajak Taani ke Kuil Emas untuk mengumpulkan berkat-berkat Allah untuk kompetisi malam itu-dan mencari jalan keluar atas permasalahan internal yang tengah dihadapi keluarganya. Sementara di sana, Taani memiliki realisasi di mana ia percaya bahwa Allah telah menunjukkan padanya tanda yang memberitahu bahwa pernikahannya dengan Suri adalah kehendak Allah. 

Untuk pertama kalinya ia mencerminkan pada suaminya dan menjadi sadar akan kekuatan dan integritas karakter Suri, sesuatu yang selama ini belum bisa tumbuh, namun saat itu hadir—cinta. Taani kemudian mengatakan kepada Raj bahwa dia tidak bisa memilihnya dan membatalkan janji kawin lari
Ketika saatnya penampilan Taani tiba untuk kompetisi tari, Taani tertegun melihat Suri bukan Raj bergabung dengannya di atas panggung. Suri melakukan tarian yang sama seperti yang biasa Taani da Raj lakukan ketika latihan. Sementara menari, Taani menempatkan gambaran Suri dan Raj bergantian dalam flashback memorinya.
Di akhir tarian, akhirnya Taani mengetahui fakta bahwa Suri adalah Raj. Taani menjadi menyadari betapa Suri selama ini selalu menghujaninya dengan cinta padahal ia tidak memberi Suri secuil cintapun. Suri pun mengakui cintanya, Taani berlinang air mata dan menerima setulus hati Suri sebagai suaminya. Kedua memenangkan kompetisi tari dan berbulan madu ke Jepang. Saling berbahagia dalam perkawinan mereka.

Selasa, 25 September 2012




Ø  Kelebihan dan Kekurangan Buku

a.       Kelebihan Buku

-          Buku tersebut diceritakan melalui dua sudut pandang, yakni Ainun dan Habibiee. Hal tersebut membuat pembaca bisa mengetahui sudut pandang kedua orang tersebut dalam satu situasi yang sama.

-          Beberapa pendapat, ide, dan perasaan Ainun dalam buku tersebut diceritakan berdasarkan penuturan yang dikutip dalam buku karangan Ainun sendiri.

-          Banyak pelajaran yang bisa diambil dari tulisan perjalanan hidup pak Habibiee dan Ainun, baik tentang cinta, religiusitas, keluarga, pentingnya pendidikan, cinta tanah air, politik, dan sejarah.

b.      Kekurangan Buku

-          Bahasa yang digunakan penulis terlalu kaku sehingga pembaca sukar menghayati cerita.

-          Terlalu banyak konsep dan istilah yang mekanik dan matematis, terutama saat menjelaskan proyek pembuatan pesawat atau gerbong. Penjelasan yang terlalu detail tersebut membuat pembaca kurang tertarik dan cepat bosan.

-          Pilihan kata kurang bervariasi dan ada beberapa istilah yang diulang-ulang.



Ø  Kondisi Sulit atau Hal-hal yang Berpotensi Mengganggu Mental

-          Ayah Habibie meninggal saat ia berusia 14 tahun sehingga Habibie diasuh oleh orang tua tunggal, yakni ibunya.

-          Habibie dilecehkan beberapa temannya saat beliau mulai mendekati Ainun. Bahkan setelah menikah pun, banyak teman sejawat Ainun (dokter) yang memandang Habibie dengan sebelah mata.

-          Keluarga besar Ainun adalah keluarga yang lebih terpandang dibandingkan keluarga Habibie.

-          Setelah menikah, Ainun dan Habibie tinggal di Jerman selama kurang lebih 6 tahun. Di sana, mereka mengalami banyak kendala, mulai dari masalah finansial, perasaan kesepian karena jauh dari keluarga, serta harus melakukan segala sesuatu secara mandiri.

-          Habibie harus bekerja keras untuk menyambung hidup. Beliau bekerja mulai pagi sampai larut malam, sehingga waktunya banyak tersita untuk pekerjaan. Ditambah lagi, beliau harus menyelesaikan penelitian pendidikan S2 dan S3 nya.

-          Habibie sering dihadapkan dengan permasalahan dalam pengambilan keputusan di tempat kerjanya (memilih pekerjaan, menerima/menolak tawaran tender, dan promosi jabatan).

-          Tantangan ketika Habibie harus menjadi wakil presiden dan presiden republik Indonesia.

-          Ainun, istri Habibie bimbang saat memilih menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak-anaknya ataukah menjadi dokter lagi untuk membantu mencari tambahan biaya hidup.

-          Teman sejawat Ainun, yakni dokter-dokter ahli adalah orang-orang intelek yang sempat membuat Habibie cukup minder.

-          Ainun selalu mendampingi kemanapun Habibie pergi, sehingga ia sering meninggalkan anak-anaknya di rumah.

-          Ainun mulai sakit-sakitan (sakit paru-paru, jantung, dan kanker ovarium stadium akhir) sehingga harus berobat ke Indonesia, Jerman, Amerika dan Brazil.

-          Ainun, istri yang sangat dicintai sekaligus motivator utama dalam kehidupan Habibie telah meninggal, setelah genap menemani beliau selama 48 tahun 10 hari.



Ø  Kondisi Lingkungan

-          Kondisi lingkungan keluarga besar Habibie adalah keluarga yang intelek dan kental nuansa agamis. Dalam keluarga tersebut selalu ditanamkan nilai-nilai moral, kerja keras, dan semangat pantang menyerah.

-          Kondisi lingkungan keluarga besar Besari (Ainun) adalah keluarga yang berbasis pendidikan dan terpandang. Pak Besari (ayah Ainun) adalah seorang dosen, sedangkan Ainun sendiri adalah seorang dokter anak.

-          Kondisi lingkungan keluarga Habibie dan Ainun setelah menikah berbeda dengan kehidupan keluarga besar mereka masing-masing di Indonesia. Hal tersebut bisa dilihat dari budaya, sosial dan kebiasaan yang ada di Jerman. Selama di Jerman, Ainun dan Habibie dituntut untuk menggunakan waktu sebaik mungkin. Hidup mereka pun lebih mandiri karena jauh dari keluarga besar masing-masing. Sebagian besar waktu digunakan Habibie untuk bekerja dan menyelesaikan studinya, sedangkan Ainun mengurus rumah tangganya.

-          Ainun dan Habibie selama di Jerman tinggal di apartemen yang semua penghuninya mayoritas adalah  teknisi pesawat dan gerbong kereta.



Ø  Kesimpulan

Dalam mengambil segala keputusan, Habibie selalu berdiskusi dan bermusyawarah dengan Ainun. Mereka berdua selalu mempertimbangkan baik dan buruknya konsekuensi yang akan diambil serta saling memberikan dukungan ketika banyak permasalahan yang dihadapi. Disamping itu, keduanya saling mengerti dan memahami tugas masing-masing, tanpa mengeluh. Bahkan, tanpa berkomunikasi pun mereka berdua bisa saling mengerti kebutuhan masing-masing.

Habibie sangat profesional dan teliti dalam bekerja. Beliau berusaha sebaik mungkin membagi waktu antara bekerja, keluarga dan kapan harus berbakti pada negeri. Saat akan menjabat sebagai wakil presiden maupun sebagai presiden, Habibie melakukan musyawarah dengan keluarga besarnya. Beliau meminta saran dan mempertimbangkan semua kemungkinan sebelum mengambil keputusan yang besar tersebut.

Ketika Ainun sakit keras, Habibie selalu setia menemani Ainun, bahkan tidur pun tetap di satu atap. Habibie membawa Ainun berobat ke berbagai negara yang dinilai mampu menyembuhkan istrinya tersebut. Hingga pada Ainun harus berpulang ke Rahmatullah, Habibie tidak pernah merasa kehilangan sosok Ainun. Bagi Habibie — Ainun adalah jiwa manunggalnya.

Senin, 24 September 2012




Informasi Detil Buku
Judul               : Habibie dan Ainun
Pengarang       : Bacharuddin Jusuf Habibie
Penerbit           : The Habibie Centre Mandiri, Jakarta, November 2010
Halaman          : xii + 323 halaman

Gula Jawa

Awal pertemuan “dua pasang sejoli”, berlangsung penuh warna. Ainun, oleh Habibie disebut sebagai Gula Jawa, karena hitam dan gemuk. Sebutan ini tentu terasa tak sopan dan mengagetkan. Tetapi hanya tujuh tahun kemudian (paska Habibie pulang dari Jerman), Habibie meralat: Ainun, kamu sekarang adalah Gula Jawa yang menjadi Gula Pasir (cantik dan putih). Di sisi lain, saat itu banyak pihak yang meragukan kemampuan Habibie, untuk dapat merebut hati Ainun.


Tertulis di halaman 6: Kamu (maksudnya Habibie) harus tahu diri, kamu harus tahu Keluarga Ainun itu siapa? Sainganmu anggota keluarga terkemuka di Indonesia, berpendidikan lebih tinggi dari kamu, kaya, ganteng, sementara kamu siapa? Sepeda motor saja kamu tak punya.


Keyakinan kuatlah yang kemudian mengantarkan keduanya ke gerbang pernikahan, pada tanggal 13 Mei 1962, di Hotel Preanger, Bandung. Lalu, terkuaklah gerbang suka dan duka, terutama masa-masa awal kehidupan mereka di Jerman.


Saat itu, Habibie baru bisa bekerja sebagai Asisten dan tenaga peneliti untuk seorang Professor , bernama Hans Ebner. Dengan gaji DM 1.300 (atau sekitar 680 Euro). Penghasilan ini tak jauh dari cukup untuk mereka berdua. Untuk menghemat, semuanya dikerjakan sendiri. Ainun bahkan harus menjahit sendiri pakaian mereka. Sementara Habibie, terpaksa haru berjalan kaki pulang dari kantor —yang melewati kompleks pekuburan (halaman 20).


The Big Ainun

Hasri Ainun selalu mampu memberikan dukungan untuk Sang Suami, termasuk ketika sang suami terbentur jalan buntu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Misalnya, di saat Habibie nyaris menyerah dalam menghitung teori Thermo Elstisitas, yang sudah ia kerjakan siang dan malam. Dengan pelukan dan ciuman di dahi, Ainun membisikkan saran meyakinkan: Saya mengenal dan yakin atas keunggulanmu, apa yang kamu lakukan sudah benar, mungkin hanya ada kesalahan kecil.


Ainun pula yang mengingatkan Habibie, ketika menghadapi tawaran menggoda dari “perang kedirgantaraan” antara perusahan-perusahan besar yang memproduksi pesawat terbang, terutama Inggris, Perancis, dan Amerika. Habibie hanya tinggal memilih, apakah terlibat sebagai ahli rekayasa untuk pesawat Supersonic Concorde atau Supersonic Transporter. Ainun meminta agar Habibie jangan melanggar sumpahnya, untuk mengabdi pada Tanah Air Indonesia.


Periode berikutnya, Habibie melesat sebagai meteor. Berbagai tawaran datang, baik dari dunia industri dirgantara internasional, maupun dari berbagai rezim pemerintahan. Buku ini juga menguak, bahwa Ferdinand Marcos, dictator Filipina, pun sempat membujuk Habibie untuk membangun industri pesawat di Filipina (halaman 103). Namun pilihan tetap jatuh ke panggilan hati nurani: balik ke Indonesia. Sebelumnya, memang berkali-kali datang utusan Indonesia guna membujuk Habibie. mulai dari Adam Malik, Syarief Thayeb, Ibnu Soetowo, hingga Pak Harto sendiri yang meminta.


Lagi-lagi Ainun hadir memberi dukungan. Meski telah menetapkan pilihan, pikiran ragu dan berbagai pertimbangan tetap mengemuka. Habibie dan kawan-kawan sering menganalisis berbagai kemungkinan. Kawan-kawan Habibie banyak yang mengingatkan agar tak menerima “godaan” Pak Harto —mengingat figure Pak Harto yang dikenal sebagai tiran. Terbukti, dari sejumlah orang Indonesia yang sekolah di Jerman, banyak yang tak bersedia bergabung dengan Habibie. Ainun lah yang mengukuhkan kepastian pilihan, mendampingi di setiap pasang surut perjuangan. Penampilan, wajahnya, senyumnya, senantiasa mengilhami, menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin (halaman 110).


Fase yang tak kalah berat, justru mengalir setelah Habibie berkibar. Menjadi Menteri Riset dan Teknologi, menjadi Ketua Umum ICMI, dan terakhir menjadi Presiden RI. Sang Isteri tak tinggal di belakang buritan, ia juga proaktif berjuang bersama, lewat wadah yang memungkinkan untuk menjadi penopang manusia unggul bernama B.J. Habibie.



Kamis, 10 Mei 2012


Kolimasi*

Oleh:

Eka Nurcahyani, Mahasiswi Psikologi UM Semester 4





            Tak banyak yang aku dapatkan ketika duduk formal dan mendengarkan paparan dari dosen. Setidaknya itulah yang terlintas dalam pikiranku seusai kuliah tiap harinya. Picik sekali dan betapa aku menyiakan waktuku dengan duduk dan hanya berdiam diri. Entah paham atau tidak, aku tak bisa mengklasifikasikannya. Yang jelas terkadang aku harus berjalan dalam kepura-puraan menjadi orang yang berlagak bisa padahal diri sendiri berada dalam kebingungan. Tak ubahnya, menganggukkan kepala menyetujui asumsi teman yang sebenarnya tidak aku pahami. Sungguh belakangan ini aku hidup dalam banyak persona.



            Baru kemudian ketika aku berada dalam kondisi terancam, tertekan dan dituntut untuk mengambil keputusan serba cepat dengan penuh kecermatan, aku sadar tak seburuk itu diriku. Lomba cerdas cermat kemarin memaksaku merekonstruksi ulang struktur kognitif yang aku miliki. Ibarat membuka sebuah buku, apa yang dibacakan dalam pertanyaan adalah mayoritas yang telah dipelajari di bangku perkuliahan. Bahkan apa yang olehku dan teman-teman remehkan ternyata memberikan kontribusi besar dalam kemenangan team kami. Dewi fortuna nampaknya sedang berbaik hati pada kami kala itu.



            Dari awal aku pesimis akan kemenangan. Ini kali pertama bagiku ikut perlombaan dengan orang-orang hebat. Sahabatku, Bety, ia teramat jago dalam menghafal dan  memahami konsep. Daya ingatnya begitu tajam meski hanya sekilas membaca. Ia mampu menghafal hingga yang detail terkecil dari bahasan materi. Tak heran jika ia menjadi juara kelas.



            Sahabat sekaligus rekanku yang kedua tak kalah hebat. Asri Diana Kamilin. Seorang aktivis kampus yang menggembara hingga ke negeri Malaysia berkat karya tulisnya yang berkualitas. Kemampuannya berbicara mampu memukau semua juri dan hadirin dalam perlombaan kala itu. Argumen-argumennya selalu didasari konsep psikologi yang kompleks. Asri adalah sosok Kartini muda yang gencar memajukan pendidikan dan segala sector yang terlibat didalamnya. Ia menulis, berbicara, juga mengajak civitas akademika untuk memanfaatkan setiap celah sebuah peluang. Mengokohkan sendi keberanian individu.



            Terimakasih untuk Asri yang tak lelah membujuk dan memberikan kepercayaan padaku juga Bety untuk mencoba tampil di depan public dan merefleksikan apa yang telah kami pelajari selama dua tahun ini.  Semangat juangmu membuatku malu akan diri sendiri yang tak bisa apa-apa ini. Aku menantikan suatu waktu dimana aku bisa menyamai bahkan lebih dari apa yang telah kamu kerjakan. Sobat, mari berjuang bersama menapaki masa depan yang masih berselubung misteri ini.



            Asri yang memberikan nama Lentera satu pada team kami. Nama team yang membuatku berpikir bahwa kami hanyalah lentera yang tak bisa menerangi kesederhanaan fakultas kecil kami, FPPsi UM, yang kini belum genap berusia 4 bulan. Masih redup dalam kelam malam dan mudah terkoyak angin yang berhembus perlahan. Cahayanya begitu lembut dan disangsikan dapat memberi kehangatan hati yang haus akan prestasi dan kebanggaan. Lentera.. bias akan makna.



Tim Lentera saat lomba Psychobattle
            Lentera yang awalnya disangsikan eksistensinya kini berpendar terang dalam nyala yang memberi kehangatan. Membuka jalan bagi lentera dan puluhan nama yang lain untuk mengibarkan panji ungu milik FPPsi dimana tempat. Tak ada masalah nama Lentera dipinggirkan dan diganti dengan nama yang lain. Namun bagiku, Lentera membawa sekuak sejarah yang kan ku kenang. Awal aksi dan semoga bukan menjadi yang terakhir.



            Aku teringat kata seorang sahabat karib saat berbincang di parkiran sepeda, “hanya satu kali kita berusaha keras untuk menembus sebuah pintu keraguan dan keterbatasan. Selanjutnya akan menjadi lebih mudah”. Hahhh, aku benci tak mampu menuliskannya persis sama yang ia ucapkan, setidaknya demikian yang ia maksudkan ketika memberi semangat padaku.



            Kawan. Setiap manusia punya cita dan rintangan yang harus dilalui sebelum sebuah aktualisasi diri tercapai. Akan ada beribu cara untuk menghadapi sebuah rintangan, dan ketika rintangan itu terlewati akan ada rintangan lagi yang menanti untuk diselesaikan, bukan untuk ditakuti keberadaanya. Sekali saja, cobalah keluar dari belenggu keterbatasan dan ketidakmampuan diri. Selanjutnya, pengalaman akan mengawalmu menjadi orang dewasa yang matang dan sukses. Carilah teman yang berjalan seiringan dengan tujuan hidupmu. Bawa dia sebagai teman sekaligus penasihat dalam mengambil langkah.



            Mari berjuang, Kawan. Tiga tahun mendatang kita akan bertemu dalam kesuksesan. Kita mulai Kolimasi ini—pengubahan perpencaran tujuan kita menjadi satu tujuan bersama yakni untuk mencapai aktualisasi diri, dan membangun negeri. Salam kemenangan!!!!!!!!!!!!!! 



*Kolimasi : proses pengubahan berkas cahaya (sinar) yg berpencar menjadi berkas sejajar

                                                                                               

                                                                                   
Post on Notes Facebook

Sabtu, 03 Maret 2012


Malioboro.. Ing Sawijining Wengi
              Jam sanga kurang seprapat, Arul wis cepak-cepak arep mangkat. Klambi kothak-kothak lengen dawa, clana jeans kluwus ning resik, lan sepatu loakan merk Nike olehe tuku ing pasar Beringharjo, kabeh wis dienggo. Senajan mung arep ngamen, ora ana eleke yen nyandhang pantes. Idhep-idhep kanggo ngajeni wong sing dingameni, mengkono panglocitane batine. Rampung dandan, Arul njupuk gitar sing gumlethak ing peturon, banjur jumahgkah metu saka omah.

              Angin wengi semilir, nggawa ganda amrik kembang sedhep malem. Mbulan satampah lan lintang-lintang abyor madhangi langit. Nanging Arul babar pisan ora nggagas kabeh mau. Lakune tumungkul, mecaki trotoar dawa sing wis rong taun iki ajeg diliwati, pendhak wengi lan parak esuk, nalika dheweke mangkat lan mulih ngamen.

             Tekan palang sepur wetan Pasar Kembang, Arul menggok menyang sawenehe warung Hik pinggir dalan. Lagi wae manyuk lawangan, dheweke weruh Herman, kancane ngamen lagi lungguh jegang ing bangku pojok karo ngadhep kopi. Arul mara nyedhaki.

"Dak kira nek cuti," cluluke Herman, sing blasteran Jawa-Ambon iku.
"Padhakna pegawe wae ... Cuti ya sesuk ora sarapan," Arul lungguh karo nyaut sega kucing rong wungkus. Herman mung nggleges. Dheweke menyat saka anggone lungguh, banjur nginguk menjaba. Ing ngarep pertokoan kang tutup jam sanga mau, warung-warung lesehan wis akeh sing digelar. Mobil lan motor tharik-tharik ngebaki parkiran. Malioboro pancen ora tau turu. Rina-wengi tansah dadi papan jujugane uwong. Saweneh ana sing dodolan, golek rejeki, saweneh maneh ana sing jajan lan ngenggar-enggar ati.

              Setengah jam candhake, Arul lan Herman wis katon jengkeng sinambi genjrang-genjreng, adol swara sake warung lesehan sing siji, menyang warung lesehan liyane. Anggone nyanyi gentenan, gumantung karo karakter lagune. Yen lagune mbutuhake vokal Tenor, Arul sing nyanyi. Dene yen lagune mbutuhake vokal Bariton, Herman sing nyanyi. Wong loro wis apal karo bageyane dhewe-dhewe, awit gaweyan iku pancen wis rada suwe dilakoni bareng.
             Satemene asile mono lumayan. Yen mung saderma kanggo mangan wae turah. Awit racake wong sing padha jajan, ora ana sing menehi kurang saka limang atus rupiyah. Malah umume sewu munggah. Ora maido, wong niyat jajan mono mesthine saka ngomah ya wis sangu dhuwit kepara turah. Nanging senajan mengkono, kerep ana perang campuh ing atine Arul. Gengsine minangka sarjana S1 sok-sok ora bisa narimakake, yen kanggo golek dhuwit sewu-rong ewu wae, dadak dilabuhi nyanyi karo jengkeng utawa timpuh ing ngarepe wong-wong kang lagi mangan. Saka rumangsane, ajining dhirine dadi ilang babar pisan. Kaya kere sing nyadhong kawelasan. Nanging arep kepiye maneh?! Urip iki angel. Lan weteng sing mlilit ora bisa wareg yen saderma dipakani gengsi.

"Ya ditrimak-trimakna wae dhisik, Rul. Pancen rodha nasibe awake dhewe iki saiki lagi neng ngisor. Mengko rak ya tiba titi mangsane rodhane mubeng mendhuwur," pratelane Herman, nalika sawijining wengi Arul ngetokne uneg-unege.

"Bener kandhamu, Her. Rodhane lagi neng ngisor, tur mlindhes telek lencung sisan. Dadine ambune ya blarengan," Arul sing lagi sumpeg atihe, nyaut waton muni. Herman nyekakak saambane lambene, nganti watuk-watuk. Pancen wonq loro iku anggone memitran rakete ngungkuli sedulur. Yen sing siji atine lagi susah, mesthi liyane nyoba nglelipur. Mbokmenawa merga rumangsa senasib. Padha-padha lulusan S-1, ning kepeksa mung padha dadi panji klanthung.
              Jam setengah siji, kaya adat sabene, wong loro leren ing ngarep benteng Vredeburg, poncot kidul Malioboro, sinambi ngetung pengasilane
.
"Wah, lumayan. Entuk nemlikur ewu wolung atus," cluluke Herman sing dadi Bendahara. Dhuwit banjur dibagi loro, sing kumel-kumel diwenehake Arul, dene sing rada anyar disaki dhewe. Arul mung meneng wae, wis apal karo kelakuwanekancane sitok iku.

"Malioboro pancen lahan subur. Ning yakuwi, ndadak ndlosor kaya ula, Arul ngomong lirih karo ngempakne rokok.
"Oalah Rul, gengsimu kuwi mbok wis ora usah diingu. Wong nyatane ijazahmu ya ora bisa nggolek pangan wae, kok."
"Ngonoa apa ya sajege awake dhewe arep dadi kaya ngene?" Arul nyedhot rokoke jero. "Apa wong tuwamu neng Ambon ya wis marem, yen ngerti kowe sing dikuliahake adoh-adoh, jebul mung dadi tukang mbarang?"
"Lha witikna arep kepiye maneh? Wong awake dhewe olehe usaha ya wis ora kurang-kurang. Mlebu plataran kantor disingkang-singkang Satpam, ya wis dilakoni. Nyatane nganti seprene ya tetep durung ana asile ..." Herman unjal ambagan abot, kelingan marang nasibe dhewe.
               Rada suwe wong loro banjur mung padha meneng-menengan, kentir marang gagasane dhewe-dhewe. Lampu-lampu merkuri kang jejer-jejer ing sadawaning Malioboro katon putih kencar-kencar. Bening kaya kristal. Sauntara kuwi, senajan wis lingsir wengi, nanging kendharaan panggah liwat pating sliri. Embuh apa sing digoleki ...

"Mulih saiki, apa operasi maneh, Her ...?" Arul ngguwang tegesane sing meh nylomot driji. Herman nyawang mengalor, penere lesehan.
"Isih akeh sing dha jajan, ki? Apa ora eman-eman? Ora ilok lho, nolak rejeki."
"Ya ayo ...!"

               Arul menyat karo nyangking gitare. Herman ngetutake ing mburine. Yen mau anggone ngamen saka lor mengidul, ing warung-warung lesehan sing manggon ing iring wetane dalan Malioboro. Saiki ganti saka kidul mengalor, ing warung lesehan sing manggon ing iring kulon. Wong loro nlusur wiwit saka lesehan cedhake Gedhung Agung mengalor. Saka bakul gudheg, ayam goreng, tekan Sea Food, ora ana sing kliwatan. Bareng anggone mlaku tekan kidule toko Dynasti, dumadakan Herman ngruwes bokonge Arul seru, nganti bocahe njomblak karo misuh-misuh.

"Wedhus ...! Homosex-mu kumat ya, Her ...!"
"Ssstt ... Lor-kulon arah jam sepuluh..:" Herman ngomong lirih ing sandhing kupinge Arul.

              Arul nglirik papan sing dibisikake Herman. Ana bocah wadon loro lagi lungguh ing lesehan, sinambi ngadhep roti bakar lan susu segar. Tanpa sraba-sraba, Herman langsung menggok. Arul kepeksa melu nginthil ing mburine, senajan rada anyel. Soale iki mau wong loro wis rencana arep mulih. Kejaba drijine keju, mripate uga wis mbliyut, kegawa awake kang sayah. Herman kuwi wiwit biyen watake ora malih. Saben weruh prawan, mripate ijo. Kamangka pacare sing fotone tansah dislempitake ing dhompet iku ya ayu ... Arul grenengan dhewe ing batin.

Nalika Arul lagi wae siap-siap arep nyanyi, dumadakan gitare direbut cewek sing lungguhe ngungkuri dalan. Saking kagete, Arul mung mlongo.

"Mbak, roti bakar kalih susu segar, kalih malih ...! tanpa maelu Arul sing plenggang-plenggong, bocah wadon iku aba marang bakule.
"Arum ...?!" Arul ngulati karo njengkerutake alis. Rada tidha-tidha, sumelang yen kleru. Sing diceluk jenenge mung mesem karo mbalang liring.Ana kangen sumembul saka pletik-pletik sorot mripate.
"Ya ampun, Arum ...! Lha kok tengah, wengi kluyuran neng kene?! Jarene awakmu kerja neng Batam?! Arul nyalami cewek lencir mripate bening iku, sing banjur nimbangi kanthi nggegem kenceng tangane Arul.
"Kluyuran ...! Padhakna pe-es-ka wae ...!" Arum mecucu. Kancane sing nganggo sleyer abang nyekikik.
"Iki lho, kancaku pengin weruh sing jeneng Malioboro. Mula mumpung ana prei, banjur dakjak mrene sisan. Idhep-idhep karo bernostalgia," Arum mesam-mesem. mesem. "Lha awakmu dhewe piye, Rul? Kok nganti rong taun punjul, blas ora ana kabare?" bacute karo mandeng manther praupane Arul.
"Dawa critane, Rum. Tur mboseni. O, iya ... Kenalke, iki kancaku..."
"Aku wis ngerti, kok," Arum munggel cepet."Iki rak Herman, ta? Play Boy-ne Fakultas Hukum sing biyen pas dhemo sirahe bocor dipopor tentara kae ta?"

                Herman mringis karo nggrayahi tilas jahitan sepuluh senti ing sirahe. Kenang-kenangan nalika kerusuhah Mei 1998 kepungkur. Arum banjur ngenalake kancane, marang Arul lan Herman.

Ooo ... Dadi iki Mas Arul sing kerep mbokcritakne kae? Sing jaremu "cool" tur "smart" ..." ujug-ujug si sleyer abang sing jenenge Ayu iku cluluk.
"Ngawur ...! Kapan olehku crita?! Senengane ngarang ... !" Arum klejingan. Tangane kemawe, njiwit bangkekane kancane. Ayu jelih-jelih karo ngguyu kemekelen.
              Arum iku satemene kancasaangkatane Arul, jaman isih kuliah biyen. Malah kanca raket banget, awit kekarone padha dene aktif ing Senat Mahasiswa. Kerep diskusi, debat lan,nindakake tugas kampus bareng. Mula ora jeneng aneh yen merga saka kerepe ketemu lan.srawung, suwe-suwe banjur nukulake wiji-wiji tresna ing atine bocah sakarone. Mung emane, Arul sing minder merga kahanane sing kesrakat, ora wani mblakakake pangrasane marang Arum.
              Sumelang yen dikira ora ngilo githok. Sauntara Arum dhewe sing tinitah wadon, mung bisa ngenteni, ora wani ndhisiki. Kahanan mengkono iku lumaku terus, nganti bocah sakarone lulus. Nalika teka titi wancine wisudha, banjur padha janji bakal tetep terus sesambungan lan kabar-kinabaran. Nanging sajake pancen dudu jodhone. Anggone layang-layangan mung lumaku watara telung sasinan. Bubar iku banjur padha repot karo urusane dhewe-dhewe. Arum repot karo urusane minangka pegawe anyar, dene Arul repot anggone mider-mider golek gaweyan. Wusanane terus plas, kaya kepaten obor. Siji lan sijine padha dene ora ngerti kabare.
"Dadi nganti seprene awakmu isih nganggur, Rul ...?" Arum takon ngati-ati sawise Arul mungkasi critane. Sumelang yen nganti nggepok pangrasane.
"He'eh. Mula kanggo nyambung urip, ya kepeksa pendhak wengi dadi kalong neng Malioboro,"Arul mesem, ndhelikake atine kang getir. Arum trenyuh banget. Mripate nganti kaca-kaca. Babar pisan dheweke ora ngira, yen priya sing meneng-meneng wiwit biyen tansah dikagumi, merga kapribadene kang apik, beda karo kanca-kancane lanang liyane iku, jebul nasibe ala banget. Pantesa mono dheweke kepengin ngrangkul priya ing ngarepe iku, banjur nglelipur lan nggedhekake atine. Nanging biyen wae ora kelakon, apa maneh saiki sawise adoh?
"Sabar, Rul ... Aku ngerti banget yen awakmu iku pinter, tur tipikal pekerja keras. Mbokmenawa mung durung ketemu dalane wae..."

                 Arum nggegem tangane Arul kebak empat. Sauntara Herman lan Ayu lagi ketungkul kojah ngethuprus, sajak gayeng banget. Sedhela-sedhela . padha ngguyu cekikikan. Embuh padha ngrembug apa.
               Wengine mrambat sangsaya tuwa. Angin kang midid wiwit krasa adhem ing kulit. Arul unjal ambegan landhung. Lungguh adhep-adhepan sinambi omong-omongan karo Arum ngene iki, marakake dheweke kelingan jaman isih kuliah biyen. Kelingan marang wektu-wektu kepungkur kang endah lan kebak semangat urip, amarga rumangsa dibutuhake dening liyan. Rumangsa yen uripe ana gunane. Ora kaya saiki, mung kaya uwuh kang ora kanggo. Nyepet-nyepeti mripate sinq nyawang. Arul nggresah sajroning ati, "Menyang endi lungane wektu-wektu kang manis iku ...???!!!".


A call-to-action text Contact us